Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Ruang Sastra

Sri Kertanegara: Raja Terakhir Singhasari, Perintis Pertama Indonesia

Penulis : Aunur Rofiq - Editor : Nurlayla Ratri

29 - May - 2025, 15:33

Placeholder
Ilustrasi Sri Kertanegara dan Permaisuri di pelataran candi kerajaan. (Ilustrasi AI oleh JatimTIMES)

JATIMTIMES - Dalam sejarah panjang kerajaan-kerajaan Nusantara, nama Sri Kertanagara dari Singhasari tercatat dengan tinta yang membara. Ia bukan hanya seorang raja, tetapi juga seorang ideolog, pemimpin spiritual, dan pemrakarsa penyatuan politik yang nyaris melampaui zamannya. 

Pemerintahannya dari tahun 1268 hingga 1292 M membuka era baru dalam sejarah Jawa dan Asia Tenggara. Di bawah panji Singhasari, ia merancang bukan saja ekspansi militer, tetapi juga konsolidasi ideologis dan religius. Sejarawan mencatat, Kertanagara menjadi sosok penggagas Nusantara sebelum istilah itu populer dalam wacana kenegaraan Indonesia modern.

Kerajaan Singasari di Bawah Sang Maharaja

Baca Juga : Bapenda Menyapa Warga di Desa Pondokagung Kasembon, Layanan PBB Jadi Primadona

Melansir berbagai sumber, Sri Maharaja Kertanegara, yang memiliki nama kelahiran Nararya Murddhaja, adalah raja terakhir Kerajaan Singhasari dan merupakan salah satu tokoh paling penting dalam sejarah klasik Nusantara. 

Kertanegara bukan sekadar penguasa yang menutup era Singhasari (1268–1292), tetapi juga tokoh yang meletakkan dasar-dasar ekspansi maritim dan konsepsi Nusantara sebagai satu kesatuan politik yang kelak dilanjutkan oleh Majapahit.

Kertanegara adalah putra dari Sri Maharaja Wisnuwardhana (nama lahir Nararya Seminingrat), yang memerintah Singhasari antara 1248 hingga 1268. Ibunya bernama Jayawardhani, namun sebagian ahli menyebut Waning Hyun sebagai nama lain atau julukan sang ibu, berdasarkan interpretasi Slamet Muljana. Dalam pandangan ini, Waning Hyun adalah putri dari Bhatara Parameswara, putra sulung Ken Arok dari Ken Dedes.

Dengan demikian, dari garis ayah maupun ibu, Kertanegara adalah cucu dan cicit langsung dari Ken Arok, pendiri Wangsa Rajasa, dinasti penguasa Tumapel (nama awal Singhasari). Ini menjadikan posisi Kertanegara sangat kuat secara dinastik, sekaligus simbol kontinuitas dari idealisme Ken Arok sebagai pemersatu Jawa.

Sebelum menjadi raja, Kertanegara telah ditempatkan pada posisi penting sebagai yuwaraja atau putra mahkota di Kadiri pada tahun 1254, menurut Prasasti Mula Malurung dan Prasasti Pakis Wetan. Gelar lengkapnya sebagai yuwaraja adalah: Sri Maharaja Sri Lokawijaya Purusottama Wira Asta Basudewadhipa Aniwariwiryanindita Parakrama Murddhaja Namottunggadewa.

Langkah ini menunjukkan betapa strategisnya peran Kertanegara dalam menjaga stabilitas kerajaan ayahnya, sekaligus melatihnya dalam pemerintahan sebelum akhirnya naik takhta Singhasari pada tahun 1268 setelah kematian Wisnuwardhana.

Menurut naskah Pararaton, Kertanegara adalah satu-satunya raja Singhasari yang naik takhta tanpa kekerasan atau perebutan berdarah. Ia diangkat secara sah dan damai. Ini kontras dengan para pendahulunya yang sebagian besar naik lewat kudeta atau pemberontakan.

Saat naik takhta, gelar abhiseka (penobatan keramatnya) adalah: Sri Maharajadiraja Kertanagara Wikrama Dharmmottunggadewa, yang tercantum dalam Prasasti Padang Roco (1286).

Kerajaan Singhasari mencapai puncak kejayaannya di bawah pemerintahan Kertanagara. Sejak naik takhta setelah kematian ayahnya, Wisnuwardhana, ia mengusung semangat perubahan total. Dalam Kitab Pararaton, ia disebut Bhatara Siwa-Buddha, sedangkan dalam Nagarakretagama digelari Sri Jnanabajreswara. 

Dua gelar itu menunjukkan bagaimana ia mengintegrasikan dua sistem kepercayaan besar di Jawa: Siwaisme dan Tantrayana Buddha. Langkah ini bukan hanya strategi religi, tapi juga bentuk konsolidasi sosial-politik—mempersatukan dua kelompok elite spiritual yang sebelumnya bersaing.

Arah kebijakan keagamaan ini tampak dalam patung Buddha Mahakshobhya, atau yang dikenal dengan Jaka Dolog, yang kini berada di Taman Apsari, Surabaya. Patung ini menjadi bukti arkeologis penyatuan Siwa-Buddha yang dicanangkan Kertanagara, meskipun menurut catatan sejarah, ia juga dikenal menjalankan praktik spiritual ekstrem, termasuk konsumsi minuman keras dalam ritus tantrik. Sejarawan kontemporer mencatat bahwa gaya hidup tersebut menjadi paradoks antara kesucian dan keduniawian sang raja.

Ekspedisi Pamalayu dan Gagasan Nusantara

Gagasan penyatuan wilayah kepulauan yang kita kenal sebagai Indonesia dewasa ini, pertama kali dirintis secara serius oleh Kertanagara. Pada 1275 M, ia meluncurkan Ekspedisi Pamalayu, suatu misi militer dan diplomatik untuk menaklukkan serta mengikat Sriwijaya ke dalam orbit kekuasaan Singasari. Arca Paduka Amoghapasa dikirim ke kerajaan Melayu di Sumatra, bukan semata sebagai hadiah, tetapi sebagai simbol dominasi religius dan politik.

Lebih jauh, Kertanagara menjalin pernikahan politik dengan kerajaan Champa melalui adik perempuannya. Dari sisi barat ke timur, kekuasaan Singhasari menjangkau Sumatra, Bakulapura (Kalimantan Barat), Sunda, Madura, Bali, hingga Gurun (Maluku). Untuk pertama kalinya dalam sejarah Jawa, satu kerajaan mampu mengukir pengaruh lintas pulau secara sistematis.

Namun, langkah ekspansif ini tidak selalu berjalan mulus. Penolakan muncul bukan hanya dari kerajaan-kerajaan luar Jawa, tetapi juga dari dalam istananya sendiri. "Salah satu tokoh oposisi yang paling signifikan adalah Arya Wiraraja, Demung Singasari dan putra penguasa Lumajang. Ibunya, Nararya Kirana, adalah Adipati Lumajang dan saudara Kertanegara.Dengan demikian, hubungan antara Kertanegara dan Arya Wiraraja sebenarnya adalah paman dan keponakan.

Arya Wiraraja dan Perpecahan Ideologis

Baca Juga : Warga Desa Kemiren Banyuwangi Laksanakan Tradisi Mepe Kasur

Lumajang, wilayah subur di kaki Gunung Semeru, pada akhir abad ke-12 telah menjadi pusat spiritual dan kekuasaan regional. Nararya Kirana, putri Raja Jayawisynuwarddhana, diangkat sebagai penguasa Lamajang berdasarkan Prasasti Mūlamālurung (1255 M). Anak laki-lakinya, Arya Wiraraja, menjadi tokoh sentral dalam sejarah politik dan keagamaan abad ke-13 Jawa.

Sejumlah sumber menyingkap bahwa Arya Wiraraja telah menganut Islam, menjadikan Lumajang sebagai salah satu pusat awal Islam di Jawa sebelum munculnya Giri dan Demak. Ketegangan pun muncul ketika Kertanagara mulai menyebarkan ajaran Tantrayana Buddha secara agresif ke luar Jawa. Wiraraja menolak keras, baik karena alasan teologis maupun politis. Penolakan ini berbuntut pada penurunan jabatannya dan pengasingan ke Madura.

Dalam konteks ini, perbedaan agama bukan sekadar perbedaan keyakinan pribadi, tetapi turut membentuk lanskap politik. Kertanagara, yang menolak utusan Kaisar Kubilai Khan dari Dinasti Yuan, Meng Ki—seorang Muslim—dengan kasar, menunjukkan ketidaksukaan yang lebih dari sekadar urusan diplomasi. Keputusan untuk menyebarkan Amoghapasa ke Sumatra dan penyingkiran tokoh Muslim dari kekuasaan merupakan bagian dari narasi ideologis yang mengakar.

Ketegangan antara Kertanagara dan Arya Wiraraja menjadi awal perpecahan internal Singhasari. Arya Wiraraja, bersama Patih Madura Pu Sina dan Adipati Gelang-gelang Jayakatwang, membentuk aliansi rahasia yang akan mengguncang Singhasari hingga akar-akarnya. Pada 1292, saat Kertanagara tengah mengadakan pesta spiritual, Jayakatwang melancarkan serangan mendadak ke ibu kota. Tanpa perlawanan berarti, Kertanagara terbunuh. Singhasari pun runtuh.

Runtuhnya Singhasari menandai akhir dari satu era, tetapi juga menjadi prolog berdirinya Majapahit. Raden Wijaya, menantu Kertanagara, melarikan diri ke Terung dan kemudian ke Madura, meminta bantuan kepada Arya Wiraraja yang dahulu dibuang oleh pamannya sendiri. Di sinilah sejarah memberi pelajaran ironi terbesar: mantan musuh politik kini menjadi kunci kebangkitan.

Dari pertemuan di Sumenep, lahirlah aliansi strategis yang akan melahirkan kerajaan terbesar dalam sejarah Nusantara. Arya Wiraraja menerima Raden Wijaya sebagai pelindung dan mitra. Ia mengirim putranya, Wirondaya, sebagai utusan ke Jayakatwang di Kediri, menawarkan pengabdian sang pelarian sebagai loyalis baru. Jayakatwang, tak mencium siasat tersembunyi, memberikan hutan Tarik kepada Raden Wijaya. Di sinilah Majapahit akan lahir.

Dengan bantuan logistik dari Arya Wiraraja dan orang-orang Madura, hutan Tarik dibuka dan permukiman didirikan. Dari sini muncul kisah buah maja yang rasanya pahit, simbol derita sebelum kejayaan. Majapahit berdiri di atas luka, pengkhianatan, dan mimpi besar yang belum tuntas disempurnakan oleh Kertanagara.

Warisan Kertanagara: Mitos dan Kenyataan

Sri Kertanagara wafat tanpa sempat melihat realisasi visi penyatuan Nusantara secara penuh. Namun, warisan ideologisnya tidak musnah. Konsep ekspansi lintas pulau, penyatuan doktrin Siwa-Buddha, serta peran aktif kerajaan Jawa dalam dunia luar, kelak menjadi fondasi imperium Majapahit di bawah Hayam Wuruk dan Gajah Mada.

Historiografi Jawa mencatat Kertanagara dalam dua wajah: sebagai raja agung dan sebagai raja kontroversial. Praktik tantrik dan pengaruh luar yang ia adaptasi menjadi bahan kritik moral di masa selanjutnya. Namun sebagai figur sejarah, tak ada keraguan bahwa ia adalah arsitek pertama dari apa yang kini disebut sebagai "gagasan Indonesia".

Penolakan Arya Wiraraja terhadapnya, meskipun dianggap pengkhianatan oleh narasi resmi, justru menjadi katalis lahirnya poros baru kekuasaan. Majapahit tidak lahir dari kemurnian ideologi satu orang, melainkan dari tabrakan pandangan, rekonsiliasi kekuasaan, dan diplomasi lintas kepentingan.

Kisah Kertanagara dan Arya Wiraraja mengajarkan bahwa sejarah bukanlah jalur lurus menuju kejayaan. Ia adalah kumpulan pertarungan gagasan, keyakinan, dan ambisi. Dalam dirinya, terkandung pertanyaan besar tentang kekuasaan dan legitimasi: apakah raja berhak memaksakan ideologinya atas rakyat? Apakah perbedaan keyakinan pantas menjadi dasar pengasingan dan penghukuman?

Meskipun Kertanagara gagal mempertahankan tahtanya, ide penyatuan Nusantara telah terlanjur tertanam. Ia bukan lagi milik satu kerajaan atau satu orang, melainkan milik sejarah kolektif bangsa. Dari Singasari ke Majapahit, dari darah ke dharma, itulah denyut abadi peradaban Jawa dan Nusantara.


Topik

Ruang Sastra Sri Kertanagara Singhasari



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Surabaya Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Aunur Rofiq

Editor

Nurlayla Ratri