Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Peristiwa

Gus Vawrak Ajak Warga NU Tak Larut Polemik Ketum, Fokus ke Bahtsul Masail Lebih Urgen

Penulis : Binti Nikmatur - Editor : Yunan Helmy

28 - Aug - 2026, 12:11

Placeholder
Tokoh muda NU asal Ponpes Besuk Pasuruan, Gus Vawrak Tsabat. (Foto: Instagram)

JATIMTIMES - Memasuki agenda Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), perhatian publik banyak tertuju pada dinamika pemilihan ketua umum. Namun, tokoh muda NU asal Pasuruan, Gus Vawrak Tsabat, mengajak warga NU tidak hanya larut pada polemik suksesi.

Gus Vawrak justru meminta masyarakat melihat sisi lain Muktamar NU yang dinilainya tidak kalah penting, yakni bahtsul masail. Menurut dia, forum tersebut menjadi ruang bagi para ulama dan intelektual NU untuk membahas persoalan keagamaan sekaligus merespons perubahan zaman.

Baca Juga : Membahayakan Pengguna Jalan, Dua Reklame Rusak Rawan Roboh Dibongkar Satpol-PP Kota Batu

Ajakan itu disampaikan Gus Vawrak melalui tulisannya di akun Instagram pribadinya. Ia mengaku termasuk salah satu anak muda NU yang tidak terlalu mengikuti "tukaran" atau dinamika para elite menjelang Muktamar Ke-35 NU.

"Bukan karena tidak peduli NU. Justru karena terlalu peduli, aku merasa tidak semua urusan NU harus kita masuki," tulis Gus Vawrak.

Menurut dia, persoalan mengenai dinamika elite menjelang muktamar biarlah diselesaikan oleh pihak-pihak yang memang berkepentingan. Sementara anak muda NU, kata dia, cukup memahami persoalan tersebut sebagai pembelajaran agar tidak mengulangi konflik serupa ketika kelak menjadi orang tua.

"Biarlah urusan “tukaran” itu diselesaikan oleh orang-orang yang memang berkepentingan dengan urusan itu. Anak-anak muda NU, kalau boleh, cukup mengetahui faktor-faktornya. Bukan untuk ikut bertengkar, tetapi untuk belajar: mengapa orang-orang tua bisa bertengkar dan bagaimana supaya kelak ketika kita menjadi orang tua, kita tidak mengulangi pertengkaran yang sama," tulisnya.

Gus Vawrak mengatakan dirinya justru lebih tertarik terhadap agenda bahtsul masail yang  luput dari perhatian publik. Ia menilai ada ironi ketika Muktamar NU sebagai forum tertinggi organisasi lebih banyak dibicarakan dari sisi siapa yang akan menjadi ketua umum.

"Ini agak ironi memang. Muktamar NU adalah forum tertinggi organisasi. Tetapi menjelang muktamar, perhatian orang justru lebih banyak tertuju kepada pertanyaan: ‘Siapa yang akan jadi ketua?’" katanya. 

Padahal, menurut dia, ada pertanyaan yang jauh lebih penting untuk keberlangsungan NU, yakni bagaimana umat menghadapi perubahan zaman.

"Sementara pertanyaan yang dibahas para kiai dan intelektual NU: ‘Bagaimana seharusnya umat menghadapi zaman yang terus berubah?’, menurut pandanganku, jauh lebih menentukan umur panjang NU." jelasnya. 

Dalam Bahtsul Masail Muktamar Ke-35 NU, terdapat sejumlah isu yang akan dibahas dalam beberapa komisi. Di Komisi Waqi'iyyah, misalnya, terdapat pembahasan mengenai hukum cryptocurrency, komersialisasi data genetika atau DNA, hingga keberadaan chip neuralink di otak manusia.

Gus Vawrak melihat pembahasan tersebut menunjukkan bagaimana fikih dan tradisi keilmuan Islam dihadapkan dengan perkembangan teknologi modern.

Sementara di Komisi Qanuniyyah, pembahasan mencakup RUU Sistem Pendidikan Nasional, RUU Ketenagakerjaan, hingga Qanun Aceh tentang hukum jinayah.

Adapun Komisi Maudlu'iyyah akan membahas sejumlah persoalan keagamaan dan pemikiran. Antara lain konsep I'adat an-Nadzhar atau peninjauan ulang atas keputusan keagamaan NU, integrasi zakat dan pajak melalui konsep tax credit, hingga pertanyaan mengenai nilai dan hakikat keulamaan NU saat ini.

Menurut Gus Vawrak, rangkaian pembahasan tersebut menunjukkan bahwa bahtsul masail menjadi forum untuk menentukan hukum halal dan haram.

"Artinya, NU sedang mengerjakan sesuatu yang sangat serius: mencari bahasa keagamaan untuk menjawab persoalan dunia yang bahkan belum tentu dikenal oleh para ulama terdahulu. Dan di situlah menariknya bahtsul masail." ungkapnya. 

Ia menjelaskan bahtsul masail menjadi ruang pertemuan antara teks agama, tradisi keilmuan, realitas sosial, ilmu pengetahuan, dan kepentingan masyarakat.

"Ia bukan sekadar forum untuk mencari halal-haram. Ia adalah tempat di mana teks agama, tradisi keilmuan, kenyataan sosial. ilmu pengetahuan, dan kepentingan masyarakat dipertemukan." jelas putra dari kiai Pondok Pesantren Besuk, Pasuruan, H Abdullah Zaini dan Hj Rosyidah Hanim itu. 

Karena itu, menurut dia, perdebatan yang berlangsung dalam bahtsul masail bisa lebih kompleks dibandingkan pembahasan mengenai siapa yang akan menduduki kursi kepemimpinan NU.

Namun, Gus Vawrak menyadari pembahasan semacam itu tidak selalu menarik perhatian media maupun pengguna media sosial. "Sayangnya, kerumitan semacam ini memang kurang menarik untuk diberitakan. Orang lebih mudah tertarik konten berjudul: ‘Siapa calon ketum NU?’ daripada: ‘Bagaimana hukum komersialisasi data DNA manusia?’" ucapnya. 

Baca Juga : Indonesia Dilanda Karhutla, Nepal Justru Dihantam Banjir Bandang: 270 Tewas, 1.300 Orang Hilang

Menurut dia, persoalan suksesi mungkin menentukan siapa yang akan menduduki posisi kepemimpinan selama lima tahun. Sementara pembahasan mengenai perkembangan teknologi dan masa depan manusia bisa memiliki dampak yang lebih panjang.

"Padahal yang pertama mungkin hanya menentukan siapa yang duduk di kursi selama lima tahun. Yang kedua bisa menentukan bagaimana NU memandang masa depan manusia." jelas suami Ning Salma Shofia yang berasal dari keluarga besar Pondok Pesantren Lirboyo tersebut. 

Dalam tulisannya, Gus Vawrak juga mengutip cerita gurunya, KH Muhib Aman Ali, mengenai suasana Muktamar NU pada masa para mu'assis atau pendiri NU.

"Guruku, KH Muhib Aman Ali pernah bercerita: ‘Dulu di zamannya para mu’assis, ketika akan muktamar, yang kan jadi topik pembahasan warga NU adalah seputar masalah-masalah yang bakal dibahas di muktamar nanti. Tema seputar siapa yang bakal terpilih tidak begitu diminati’" ungkapnya. 

Gus Vawrak mengaku tidak mengetahui apakah cerita tersebut sepenuhnya benar. Namun, ia menilai ada pesan yang layak direnungkan dari kisah tersebut.

Gus Vawrak juga menyinggung pertanyaan yang mungkin muncul setelah keputusan bahtsul masail ditetapkan, apa yang terjadi setelahnya? Ia menilai pertanyaan tersebut wajar karena keputusan yang hanya berhenti sebagai dokumen tentu tidak memberikan dampak yang besar.

Namun, bahtsul masail menurutnya tidak seharusnya dipandang selesai ketika palu sidang diketukkan. "Hasilnya dapat menjadi bahan rekomendasi, masukan kebijakan, dan pijakan bagi NU dalam merespons persoalan publik." tandasnya. 

Dalam isu regulasi, pembahasan bahtsul masail juga dapat diarahkan untuk memberikan catatan dan pandangan terhadap kebijakan negara.

Gus Vawrak mengibaratkan hasil keputusan keagamaan seperti benih yang tidak selalu langsung terlihat dampaknya. "Hanya saja, sesuatu itu tidak selalu langsung kelihatan besok pagi. Sebab keputusan keagamaan kadang bekerja seperti benih. Ia tidak gaduh ketika ditanam. Tidak masuk fyp tiktok ketika tumbuh. Tetapi bertahun-tahun kemudian, orang baru sadar bahwa ada perubahan yang pernah dimulai dari sebuah meja musyawarah." jelasnya. 

Memasuki agenda hari kedua Muktamar Ke-35 NU ini, Gus Vawrak mengajak warga NU sedikit menggeser perhatian. Ia tidak meminta masyarakat meninggalkan dinamika suksesi karena menurutnya persoalan tersebut tetap penting.

Namun, ia mengingatkan agar NU tidak hanya menarik ketika masyarakat sedang membicarakan perebutan kursi kepemimpinan.

"NU juga harus “seksi” dan menarik ketika para ulama dan warganya sedang memikirkan ke mana manusia harus dibawa oleh perubahan zaman." tegasnya. 

Gus Vawrak kemudian menyinggung kabar mengenai akses ke majelis bahtsul masail yang disebut lebih terbuka dibandingkan komisi-komisi lainnya. "Konon kabar yang berembus, pintu komisi Bahtsul Masail besok tidak sedingin dan sekaku komisi-komisi lain. Tak perlu syarat ID Card yang membatasi, tak perlu verifikasi berbelit yang memisah-misahkan. Yang penting Anda merasa menjadi bagian dari warga NU dan membawa ketulusan untuk thalab al-‘ilmi, Anda boleh masuk," ujarnya. 

Ia menegaskan kabar tersebut perlu dipastikan kebenarannya. Namun jika memang benar, Gus Vawrak mengajak warga NU memanfaatkan kesempatan tersebut untuk mengikuti langsung pembahasan keilmuan dalam muktamar.

"Kalau kabar itu benar, ya sudah. Buat apa kita melototi panggung politik yang bikin gerah? Mari kita melangkah ke Majelis Bahtsul Masail di Muktamar NU besok. Kita nyruput kopi bareng, duduk lesehan di dekat kiai-kiai yang alim, lalu kita nikmati indahnya bertukar nalar dan kesadaran di sana." jelasnya. 

Bagi Gus Vawrak, perhatian terhadap bahtsul masail merupakan salah satu cara warga NU ikut melihat persoalan yang lebih besar daripada sekadar mengikuti siapa yang nantinya menduduki kursi kepemimpinan organisasi.


Topik

Peristiwa Gus Vawrak Tsabat Muktamar Ke-35 NU bahtsul masail ketua umum PBNU



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Surabaya Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Binti Nikmatur

Editor

Yunan Helmy