Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Serba Serbi

9 Mitos Malam 1 Suro yang Masih Dipercaya Masyarakat Jawa, Benarkah Membawa Kesialan?

Penulis : Mutmainah J - Editor : A Yahya

15 - Jun - 2026, 16:03

Placeholder
Ilustrasi malam 1 suro. (Foto: Pixabay)

JATIMTIMES - Menjelang malam 1 Suro yang menandai pergantian tahun dalam kalender Jawa, berbagai mitos dan kepercayaan kembali ramai diperbincangkan masyarakat. Mulai dari larangan menggelar hajatan, bepergian jauh, hingga kepercayaan tidak boleh keluar rumah pada malam 1 Suro masih diyakini oleh sebagian kalangan hingga saat ini.

Kepercayaan tersebut telah berkembang secara turun-temurun dan menjadi bagian dari tradisi budaya masyarakat Jawa. Dirangkum dari berbagai sumber, termasuk laporan detikSulsel, terdapat sejumlah mitos malam 1 Suro yang masih dikenal luas dan sering menjadi perbincangan setiap kali bulan Suro atau Muharram tiba.

Baca Juga : Sering Dikaitkan dengan Berbagai Mitos, Apakah 1 Suro Sama dengan 1 Muharam? Ini Penjelasan Lengkapnya

Lantas, apa saja mitos malam 1 Suro yang masih dipercaya masyarakat? Berikut ulasannya yang dirangkum dari berbagai sumber.

1. Tidak Menggelar Hajatan

Salah satu mitos yang paling dikenal adalah larangan menggelar hajatan besar pada bulan Suro, seperti pernikahan, khitanan, atau pesta keluarga. Sebagian masyarakat meyakini bulan Suro merupakan waktu untuk memperbanyak doa dan introspeksi diri sehingga dianggap kurang tepat digunakan untuk mengadakan perayaan besar.

2. Menghindari Konflik dan Pertengkaran

Dalam tradisi Jawa, bulan Suro dipandang sebagai waktu yang sakral dan penuh nilai spiritual. Karena itu, masyarakat dianjurkan menjaga hubungan baik dengan sesama, menghindari perselisihan, serta memperbanyak refleksi diri.

3. Tidak Melakukan Perjalanan Jauh

Sebagian masyarakat percaya bepergian jauh pada bulan Suro dapat mendatangkan hambatan atau kejadian yang tidak diinginkan. Kepercayaan ini telah diwariskan secara turun-temurun meski tidak memiliki dasar ilmiah maupun agama.

4. Menjauhi Kesenangan Duniawi Berlebihan

Bulan Suro sering dikaitkan dengan berbagai aktivitas spiritual seperti puasa, tirakat, doa, dan meditasi. Oleh karena itu, kegiatan yang dianggap terlalu berorientasi pada hiburan atau kesenangan duniawi kerap dihindari.

5. Tidak Keluar Rumah pada Malam 1 Suro

Mitos lain yang cukup populer adalah larangan keluar rumah pada malam 1 Suro. Sebagian orang percaya aktivitas di luar rumah pada malam tersebut dapat membawa kesialan atau hal-hal yang tidak diinginkan.

6. Tidak Membuat Keramaian

Kepercayaan ini berkaitan dengan tradisi Tapa Bisu Mubeng Beteng yang masih dijalankan oleh sebagian masyarakat di Surakarta. Tradisi tersebut dilakukan dalam suasana hening sebagai bentuk perenungan dan refleksi diri.

7. Menjaga Ucapan dan Perkataan

Sebagian masyarakat meyakini bahwa malam 1 Suro merupakan waktu yang tepat untuk menjaga lisan. Oleh karena itu, perkataan kasar, menyakitkan, atau bernada negatif dianjurkan untuk dihindari.

8. Tidak Pindah atau Membangun Rumah

Mitos berikutnya adalah larangan pindah rumah atau memulai pembangunan rumah pada bulan Suro. Aktivitas tersebut dipercaya oleh sebagian masyarakat dapat membawa hambatan atau kesialan di masa mendatang.

9. Tidak Menggelar Acara Hiburan Berskala Besar

Selain hajatan, berbagai acara hiburan yang bersifat meriah juga kerap dihindari selama bulan Suro. Sebab, bulan ini dianggap lebih cocok digunakan untuk kegiatan spiritual dan perenungan diri.

Baca Juga : Zinc hingga Omega-3, Ini Vitamin yang Bisa Membantu Redakan Jerawat

Meski berbagai mitos malam 1 Suro telah berkembang secara turun-temurun dalam budaya Jawa, sejumlah ulama mengingatkan agar masyarakat tidak meyakini bahwa bulan Suro atau Muharram merupakan bulan pembawa kesialan.

Pengasuh Lembaga Pengembangan Dakwah dan Pondok Pesantren Al-Bahjah, Prof KH Yahya Zainul Ma'arif atau Buya Yahya, menjelaskan bahwa sebagian masyarakat masih menganggap bulan Muharram sebagai bulan keramat sehingga menghindari berbagai aktivitas tertentu karena takut tertimpa kesialan.

Dalam kajian yang ditayangkan melalui kanal YouTube Al-Bahjah TV, Buya Yahya menegaskan bahwa keyakinan terhadap kesialan yang melekat pada waktu tertentu perlu disikapi dengan hati-hati. Dalam Islam, tidak ada bulan yang membawa nasib buruk karena seluruh waktu merupakan ciptaan Allah SWT.

"Ketahuilah saudaraku bahwa sikap-sikap di atas tidaklah keluar dari dua hal yaitu mencela waktu dan beranggapan sial dengan waktu tertentu. Karena mengatakan satu waktu atau bulan tertentu adalah bulan penuh kesialan, itu sama saja dengan mencela waktu," kata Buya Yahya, dikutip Senin (15/6/2026).

Pandangan serupa disampaikan Ustaz Muhammad Abduh. Menurutnya, menganggap suatu waktu sebagai penyebab datangnya musibah tidak sejalan dengan ajaran Islam.

Ia menjelaskan bahwa segala sesuatu yang terjadi merupakan ketentuan Allah SWT. Karena itu, umat Islam dianjurkan memperkuat keimanan, memperbanyak amal saleh, serta bertawakal kepada Allah SWT, bukan mengaitkan datangnya musibah dengan bulan tertentu.

Berbagai mitos malam 1 Suro hingga kini masih menjadi bagian dari tradisi budaya yang hidup di tengah masyarakat. Namun dalam ajaran Islam, bulan Muharram merupakan salah satu bulan yang dimuliakan dan tidak identik dengan kesialan maupun hari nahas. Masyarakat pun diharapkan dapat memahami perbedaan antara tradisi budaya yang berkembang dan keyakinan yang diajarkan dalam agama.


Topik

Serba Serbi 1 suro malam 1 suro mitos suro mitos 1 suro



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Surabaya Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Mutmainah J

Editor

A Yahya

Serba Serbi

Artikel terkait di Serba Serbi