Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Pendidikan

Hardiknas 2026, Prof. Abdul Hamid: Pendidikan Indonesia Perlu Koreksi Arah

Penulis : Anggara Sudiongko - Editor : Sri Kurnia Mahiruni

02 - May - 2026, 18:09

Placeholder
Wakil Rektor Bidang Kerjasama dan Pengembangan Lembaga UIN Malang, Prof. Dr. M. Abdul Hamid (ist)

JATIMTIMES – Peringatan Hari Pendidikan Nasional 2026 diminta tidak berhenti pada seremoni tahunan. Momentum ini justru dinilai penting untuk mengevaluasi arah pendidikan Indonesia yang masih kerap terjebak pada capaian angka, prestise akademik, dan persaingan formal, tetapi belum sepenuhnya menjawab persoalan kemanusiaan, moralitas, serta kebutuhan masyarakat luas.

Tema Hardiknas tahun ini, “Menguatkan Partisipasi Semesta Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua”, disebut sebagai peringatan bahwa pendidikan tidak bisa dibebankan hanya kepada sekolah dan kampus, serta tidak cukup diukur melalui rapor, ranking, maupun statistik kelembagaan.

Baca Juga : Usulan Jalur Baru Trans Jatim di Kota Malang, Sasar Kebutuhan Mahasiswa dan Pekerja

Wakil Rektor Bidang Kerjasama dan Pengembangan Lembaga Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang (UIN Malang) Prof. M. Abdul Hamid menegaskan bahwa pemaknaan pendidikan harus diperluas, karena selama ini pendidikan sering direduksi sekadar proses transfer ilmu dan pencetak lulusan berprestasi.

“Hari Pendidikan Nasional tahun ini mengusung tema yang tidak sederhana, sekaligus sangat mendasar. Pendidikan tidak lagi dapat dipahami sekadar sebagai proses transfer pengetahuan di ruang kelas, atau sebagai instrumen untuk melahirkan lulusan dengan capaian akademik tinggi semata,” ujarnya.

Menurut Hamid, orientasi pendidikan yang terlalu menekankan aspek teknis dan kompetitif berisiko melahirkan generasi cerdas secara intelektual, tetapi lemah dalam empati, kebijaksanaan, dan tanggung jawab sosial. Kondisi itu, kata dia, terlihat dalam realitas global saat ini.

“Dunia seakan kembali dihadapkan pada kenyataan pahit bahwa kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi tidak selalu berjalan seiring dengan kematangan moral dan kebijaksanaan kemanusiaan,” katanya.

Ia mencontohkan konflik dan perang yang masih terjadi di berbagai kawasan dunia sebagai bukti bahwa tingginya pencapaian sains dan teknologi tidak otomatis menciptakan kedamaian.

“Perang dan konflik yang melibatkan kekuatan besar dunia menunjukkan bahwa capaian akademik, inovasi teknologi, dan kecanggihan sains tidak cukup untuk menjamin terciptanya kedamaian,” tegasnya.

Karena itu, ia menilai ukuran keberhasilan pendidikan perlu dikoreksi. Pendidikan, menurutnya, tidak boleh hanya dibanggakan melalui indeks prestasi, jumlah publikasi ilmiah, atau capaian inovasi, tetapi harus dilihat dari dampaknya terhadap kehidupan sosial.

“Keberhasilan pendidikan tidak lagi memadai jika hanya diukur melalui indikator-indikator kuantitatif seperti indeks prestasi, jumlah publikasi ilmiah, atau capaian inovasi teknologi. Semua itu penting, tetapi tidak cukup,” jelasnya.

Hamid menegaskan pendidikan ideal harus menghasilkan kebermanfaatan nyata atau impactful education. Artinya, lulusan dan institusi pendidikan harus memberi solusi, menurunkan konflik sosial, menjaga lingkungan, dan memperkuat nilai kemanusiaan.

“Pendidikan harus menghadirkan keberdampakan yang menenangkan, bukan justru memperuncing konflik. Yang merawat kehidupan, bukan merusaknya,” ujarnya.

Dalam perspektif Islam, ia menjelaskan pendidikan memiliki makna luas melalui konsep tarbiyah, yakni menumbuhkan, memelihara, mengembangkan, dan membimbing secara menyeluruh. Pendidikan karena itu tidak hanya membentuk individu, tetapi juga masyarakat dan peradaban.

Prinsip tersebut, lanjutnya, diterapkan di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang melalui paradigma Ulul Albab yang mengintegrasikan pikir dan zikir, rasionalitas dan spiritualitas, ilmu pengetahuan dan kedalaman batin.

“Ulul Albab bukan sekadar simbol atau jargon kelembagaan, tetapi fondasi filosofis dalam seluruh proses pendidikan,” katanya.

Baca Juga : Rencana Utang Pemkot Surabaya ke PT SMI Dapat Perhatian Risma, Ungkap Risikonya

Ia menilai model pendidikan seperti itu menjadi relevan ketika banyak lembaga pendidikan modern justru terjebak pada dikotomi antara sains dan agama, kecerdasan logis dan kecerdasan moral.

“Kecerdasan sejati tidak hanya diukur dari kemampuan berpikir kritis, tetapi juga dari kemampuan untuk merasakan, merenung, dan menghadirkan ketenangan dalam diri,” lanjutnya.

Komitmen UIN Malang terhadap pendidikan berbasis nilai itu, menurut Hamid, juga mendapat perhatian internasional. Pada 27–28 April 2026, Muassasah Risalatussalam berkunjung ke kampus tersebut dipimpin Dr. Majdi Tontowi.

“Kunjungan ini bukan sekadar agenda seremonial. Ia merupakan pertemuan dua visi besar tentang pendidikan, yakni pendidikan sebagai instrumen transformasi sosial dan sebagai jalan menuju perdamaian dunia,” ujarnya.

Pertemuan itu menghasilkan komitmen kerja sama strategis, termasuk rencana hibah bangunan pusat kajian Al-Qur’an yang diarahkan menjadi ruang kolaboratif untuk menjawab persoalan kontemporer secara inklusif dan transformatif.

Hamid menegaskan, partisipasi semesta dalam tema Hardiknas juga harus dimaknai sebagai keterlibatan seluruh unsur bangsa. Pemerintah, kampus, sekolah, keluarga, masyarakat, hingga komunitas global harus bergerak bersama membangun pendidikan yang sehat.

Namun ia mengingatkan, pendidikan yang memperlebar kesenjangan sosial, merusak lingkungan, atau mengabaikan moralitas sejatinya telah kehilangan tujuan.

“Pendidikan yang merusak lingkungan, yang memperlebar kesenjangan sosial, atau yang mengabaikan nilai-nilai moral, sejatinya telah kehilangan arah,” tandasnya.

Ia berharap Hardiknas 2026 menjadi titik balik untuk membangun sistem pendidikan yang lebih manusiawi dan berkeadaban.

“Pada akhirnya, keberhasilan pendidikan tidak diukur dari seberapa tinggi kita melangkah, tetapi dari seberapa luas manfaat yang kita tebarkan,” pungkasnya.


Topik

Pendidikan Hardiknas UIN Maliki Malang UIN Maulana Malik Ibrahim UIN Malang hari pendidikan nasional



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Surabaya Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Anggara Sudiongko

Editor

Sri Kurnia Mahiruni

Pendidikan

Artikel terkait di Pendidikan