JATIMTIMES – Sektor kesehatan nasional berada dalam kondisi siaga setelah data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mencatat kasus Tuberkulosis (TBC) di Indonesia kini menembus angka sekitar 1 juta kasus. Anggota Komisi E DPRD Jawa Timur (Jatim) dr Benjamin Kristianto menilai lonjakan ini sebagai peringatan keras bagi seluruh pemangku kebijakan.
Benjamin menegaskan bahwa angka tersebut bukan sekadar statistik, melainkan ancaman nyata yang harus segera ditangani dengan strategi yang lebih sistematis dan terintegrasi.
Baca Juga : Cuaca Ekstrem Ancam Bojonegoro, Sri Wahyuni Desak Mitigasi Khusus Lumbung Energi dan Pangan
“Ini bukan angka kecil. Satu juta kasus TBC menunjukkan bahwa kita sedang menghadapi ancaman nyata yang harus ditangani secara serius dan terstruktur,” tegas Benjamin, Jumat (10/4/2026).
Tingginya angka TBC dinilai tidak lepas dari berbagai faktor klasik yang hingga kini belum sepenuhnya teratasi. Benjamin menyoroti masalah kepadatan penduduk, sanitasi yang belum merata, hingga rendahnya kesadaran masyarakat untuk melakukan deteksi dini sebagai pemicu utama.
Selain itu, ia memberikan perhatian khusus pada aspek kepatuhan pasien dalam menjalani pengobatan guna mencegah dampak yang lebih berbahaya bagi kesehatan masyarakat.
“Jangan sampai pasien putus obat. Itu justru berbahaya karena bisa memicu resistensi. Maka pendampingan dan pengawasan harus diperkuat,” tandas politisi yang juga seorang dokter tersebut.
Dalam pandangannya, penanganan TBC tidak bisa lagi bersifat sektoral atau hanya menjadi beban dinas kesehatan semata. Diperlukan sinergi lintas sektor, mulai dari pemerintah pusat, daerah, hingga keterlibatan aktif masyarakat untuk memperbaiki lingkungan dan edukasi.
“Penanganan TBC tidak cukup hanya di sektor kesehatan. Harus ada kolaborasi dengan sektor lain, termasuk perbaikan lingkungan, edukasi masyarakat, dan penguatan layanan kesehatan di tingkat bawah,” ujar legislator Fraksi Partai Gerindra ini.
Baca Juga : Tinggalkan Pendekatan Belas Kasih, Puguh DPRD Jatim Dorong Raperda Disabilitas Berbasis Hak Asasi
Mengingat jumlah penduduk Jatim yang besar, Benjamin mengingatkan agar pemerintah daerah tidak lengah terhadap potensi penyebaran yang tinggi. Ia mendorong penguatan program skrining aktif, terutama di wilayah dengan risiko tinggi, serta memastikan ketersediaan obat tetap terjaga.
Ia berharap momentum tingginya angka kasus ini menjadi titik balik bagi pemerintah untuk mempercepat upaya eliminasi TBC sejalan dengan target nasional.
“Ini harus jadi alarm bagi kita semua. Jangan sampai TBC terus menjadi beban kesehatan yang berkepanjangan di Indonesia,” pungkasnya.
