Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Pendidikan

Puasa dan Peradaban Islam, Prof Wildana: Ramadan Bukan Bulan Lemas, tapi Momentum Kebangkitan

Penulis : Anggara Sudiongko - Editor : Sri Kurnia Mahiruni

03 - Mar - 2026, 09:23

Placeholder
Prof Dr Wildana Wargodinata, Guru Besar UIN Maliki Malang bidang Ilmu Studi Islam (kiri)(ist)

JATIMTIMES – Ramadan 1447 Hijriah yang bertepatan dengan 2026 Masehi bukan sekadar bulan ibadah ritual. Di tangan umat yang memahami maknanya, Ramadan justru menjadi fondasi lahirnya peradaban besar.

Guru Besar Bidang Ilmu Studi Islam Fakultas Humaniora Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim (UIN Maliki) Malang, Prof Dr Wildana Wargodinata, menegaskan bahwa sejarah Islam membuktikan Ramadan adalah bulan pencapaian, bukan bulan kemunduran.

Baca Juga : Arti Bendera Merah yang Dikibarkan Iran di Masjid Jamkaran, Simbol Balas Dendam dan Seruan Keadilan

Dalam podcast Kajian Ramadan yang digelar UIN Maliki Malang, Prof Wildana menyebut Ramadan sebagai wajah sejati peradaban Islam. Menurutnya, pada bulan inilah umat Islam menampilkan identitas moral, spiritual, dan sosial secara utuh di hadapan dunia.

“Peradaban Islam itu syahrul Quran, syahru Ramadan. Di bulan inilah seluruh ritus dan energi spiritual umat Islam tampil paling sempurna,” ujarnya belum lama ini.

Ramadan memiliki posisi sentral karena menjadi momentum turunnya Al Quran. Dari titik itulah Islam lahir sebagai sistem nilai dan peradaban. Prof Wildana bahkan menyebut Ramadan sebagai bulan kelahiran umat Islam.

1

Ia merujuk pada riwayat ketika Nabi Muhammad SAW menjelaskan alasan berpuasa pada hari Senin. Nabi menyebut hari itu sebagai hari kelahirannya, hari diangkat menjadi rasul, sekaligus hari turunnya wahyu. Dari analogi tersebut, Prof Wildana menarik benang merah bahwa jika Islam hadir melalui turunnya Al Quran di bulan Ramadan, maka Ramadan adalah bulan kelahiran Islam.

“Kalau Rasulullah memperingati hari kelahirannya dengan berpuasa, maka umat Islam memperingati lahirnya Islam dengan berpuasa satu bulan penuh,” jelasnya.

Di sisi lain, Prof Wildana menyoroti fenomena yang kerap berulang setiap Ramadan. Sebagian orang menjadikan puasa sebagai alasan untuk mengurangi produktivitas. Jam kerja dipangkas, ritme aktivitas melambat, bahkan muncul pembenaran untuk bermalas malasan.

Padahal, menurutnya, logika itu keliru. Puasa memang melemahkan fisik, tetapi justru menguatkan spiritualitas. Ketika dimensi rohani meningkat, pekerjaan fisik seharusnya terasa lebih ringan dan terarah.

“Manusia itu tidak hanya jasad, tetapi juga ruh. Ramadan adalah momentum menguatkan spiritualitas. Kalau spiritual kuat, aktivitas justru lebih positif dan penuh kehati hatian,” katanya.

Ia menekankan bahwa puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan juga menjaga lisan, pandangan, serta sikap. Dengan kesadaran itu, Ramadan seharusnya melahirkan energi sosial yang konstruktif.

Pandangan bahwa Ramadan adalah bulan perjuangan diperkuat oleh catatan sejarah. Sejumlah peristiwa monumental terjadi pada bulan suci ini.

Peristiwa pertama adalah Perang Badar. Dalam pertempuran tersebut, sekitar 300 pasukan Muslim dengan perlengkapan terbatas berhasil mengalahkan lebih dari 1.000 pasukan Quraisy yang bersenjata lengkap. Kemenangan itu menjadi tonggak penting konsolidasi umat Islam.

Baca Juga : Ramalan Zodiak 3 Maret 2026: Bulan Purnama Mengguncang! Cinta, Karier, dan Emosi 12 Bintang Diuji

Kemudian terjadi Fathu Makkah yang menandai pembebasan Kota Makkah dan penguatan posisi Islam di Jazirah Arab. Momentum ini mengubah peta politik dan keagamaan kawasan secara drastis.

Ekspansi Islam juga berlanjut melalui Pertempuran Qadisiyah, ketika pasukan Muslim mengalahkan Imperium Persia Sasania yang saat itu menjadi salah satu kekuatan adidaya dunia.

Di Eropa, Penaklukan Andalusia yang dipimpin Thariq bin Ziyad membuka jalan lahirnya peradaban Islam di Spanyol selama berabad abad.

Saat Perang Salib berkecamuk, Salahuddin Al-Ayyubi berhasil merebut kembali Baitul Maqdis pada Ramadan. Peristiwa itu menjadi simbol kebangkitan dan ketahanan umat Islam menghadapi tekanan global.

“Ramadan identik dengan pembangunan peradaban dan pencapaian luar biasa. Jadi tidak ada alasan menjadikannya bulan kemunduran,” tegas Prof Wildana.

Ia mengajak generasi muda, khususnya sivitas akademika, untuk melihat Ramadan dengan perspektif yang lebih luas. Ia menyebut pentingnya menggunakan logika spiritual atau yang ia istilahkan sebagai logika langit.

Dalam pandangannya, ketika manusia hanya memakai logika material, banyak hal tampak mustahil. Namun dengan spiritualitas yang terasah, keberanian, ketekunan, dan visi besar dapat lahir bahkan dari kondisi yang tampak lemah.

Prof Wildana menutup pesannya dengan ajakan agar Ramadan dimanfaatkan sebagai ruang penguatan ruhani. Selama ini, manusia cenderung memberi asupan berlebih pada jasmani, sementara kebutuhan rohani kerap terabaikan.

“Ramadan adalah kesempatan emas memberi gizi terbaik untuk spiritualitas kita. Kalau kita benar benar sadar akan keberkahannya, mungkin kita ingin seluruh tahun menjadi Ramadan,” pungkasnya.


Topik

Pendidikan Puasa Guru Besar Studi Islam Fakultas Humaniora Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim UIN Maliki Malang Prof Dr Wildana Wargodinata



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Surabaya Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Anggara Sudiongko

Editor

Sri Kurnia Mahiruni

Pendidikan

Artikel terkait di Pendidikan