Pemuda Ber-Spirit SANTRI Di Era Digitalisasi | Surabaya TIMES

Pemuda Ber-Spirit SANTRI Di Era Digitalisasi

Oct 28, 2021 10:47
Dr. Lia Istifhama, M.E.I
Dr. Lia Istifhama, M.E.I

Oleh : Dr. Lia Istifhama, M.E.I., Ketua I STAI Taruna Surabaya

Kami poetra dan poetri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia.
Kami poetra dan poetri Indonesia mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.
Kami poetra dan poetri Indonesia mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.

Baca Juga : Isu Reshuffle Rabu Pon 3 November semakin Mencuat, Begini Penjelasan Istana

Tiga baris tersebut menjadi identitas abadi momen sumpah pemuda yang tercetus pada Kongres Pemuda II 27 - 28 Oktober 1928. Naskah Ikrar yang ditulis oleh Muhammad Yamin tersebut, menjadi pengikat kesatuan pemuda sebagai satu persepsi sama, yaitu anak bangsa yang masing-masing mewakili perkumpulan yang saling berbeda.

Fakta sejarah menjelaskan bahwa perbedaan wilayah, perbedaan agama, maupun perbedaan persepsi, ternyata mampu bersatu menjadi kesatuan untuk membangkitkan jiwa-jiwa pemuda Indonesia dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia saat itu.

Hal ini tentunya menjadi pemantik agar pemuda Indonesia saat ini. Bahwa dengan segala kemudahan akses komunikasi dan transportasi, menjadi penguat hubungan sosial sesama anak bangsa yang kemudian menjadi penguat terjaganya semangat persatuan. 

Pentingnya penyatuan sebagai sesama pemuda bangsa, merupakan jaminan terbentuknya situasi sosial yang baik. Dijelaskan oleh oleh Ibnu Khaldun dalam kitab Muqaddimah (1377 M), bahwa terdapat tahap situasi sosial masyarakat.

Situasi sosial pertama, yaitu masyarakat dengan solidaritas yang tulus tunduk pada otoritas kekuasaan. Kedua, Sebagian masyarakat yang telah diuntungkan secara ekonomi dan politik oleh penguasa sehingga tidak peka  dengan kepentingan umum serta terjadi kesenjangan. Sedangkan situasi ketiga adalah rusaknya negara. Dalam hal ini, masyarakat tidak lagi memiliki hubungan emosional dengan negara sehingga melakukan apapun tanpa memperdulikan nasib negara.

Untuk menghindari situasi kerusakan, maka pondasi utama adalah terjaganya persatuan sebagai sesama pemuda bangsa. Dengan begitu, penting membangun karakter pemuda yang mendukung kelangsungan bangsa. Diantara ikhtiar character building terhadap pemuda, adalah melalui bingkai SANTRI. SANTRI disini merujuk pada 5 kata, yaitu: Smart, Adaptive, Nationalism, Tough, Religious, dan Integrity.

1. Smart.

Smart atau kecerdasan, merupakan identitas dari kapasitas keilmuan seorang pemuda. Salah satu proses terbentuknya ilmu yang cukup adalah melalui institusi pendidikan yang dilakukan secara Rabbani, yaitu pembelajaran secara bertahap dari ilmu pengetahuan yang sederhana berangsur menjadi ilmu pengetahuan yang besar (sulit). 

Tahapan ilmu inilah, yang diharapkan didapat pemuda secara baik sejak masa kanak-kanaknya sehingga kelak tumbuh sebagai pemuda yang mampu memberikan kemaslahatan bagi bangsa.

Pentingnya ilmu dijelaskan dalam semua agama, termasuk Islam. Sebagai contoh, dalam kitab Hilyah al-Auliya’, yang mengisahkan bahwa Sang Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib, berwasiat kepada muridnya, Kumail bin Ziyad: 

“Hati manusia itu bagaikan bejana (wadah). Oleh karena itu, hati yang terbaik adalah hati yang paling banyak memuat ilmu. Camkanlah baik-baik apa yang akan ku sampaikan kepadamu. Manusia itu terdiri dari tiga kategori, seorang yang berilmu dan mengajarkan ilmunya. Seorang yang terus mau belajar, dan orang inilah yang berada di atas jalan keselamatan. Orang yang tidak berguna dan gembel, dialah seorang yang mengikuti setiap orang yang bersuara. Oleh karenanya, dia adalah seorang yang tidak punya pendirian karena senantiasa mengikuti kemana arah angin bertiup kehidupannya tidak dinaungi oleh cahaya ilmu, dan tidak berada pada posisi yang kuat."

Maka dari pesan tersebut, sangatlah jelas bahwa keilmuan sangat dibutuhkan dalam kehidupan dan menjadi andalan berlangsungnya sebuah bangsa. 

2. Adaptive

Karakter adaptif merupakan pengejewantahan pemuda mampu mengikuti perkembangan dan tantangan zaman. Dalam Islam, spirit ini disebut dengan istilah shalihun li kulli zaman wal makan, yaitu sesuai dengan perkembangan waktu dan tempat. 

Dalam hal ini, bagaimana pemuda dapat tumbuh dan bertahan atas apapun yang dihadapinya. Tak terkecuali, mampu mengikuti segala perkembangan revolusioner di era modernisasi atau digitalisasi. 

Era digitalisasi identik dengan segala kemudahan akses informasi. Namun, era digitalisasi tetap harus diantisipasi dari potensi ‘Post Truth’. Post truth yaitu identitas sebuah era ketika kebohongan dikembangkan dalam masyarakat dan dijadikan sebagai kebenaran oleh pihak tertentu yang mengambil keuntungan dari rekayasa (kebohongan) tersebut. 

Jika kebohongan menjadi pembenaran, tentu efek dari digitalisasi atau modernisasi tidak lagi sebatas disrupsi sosial, yang oleh Francis Fukuyama, sebagai perubahan hubungan sosial.

Secara singkat, Fukuyama menyebut bahwa modernitas menyebabkan lemahnya ikatan sosial gemeinschaft (kekerabatan) dan menguatkan gesselschaft, yaitu ikatan yang terbangun karena kesamaan kepentingan di dalam suatu kelompok sosial. Namun ternyata, modernitas yang kini sangat didominasi digitalisasi, bukan hanya mengubah sistem hubungan sosial, namun juga berpotensi sulitnya membedakan yang benar dan salah.

Dalam hal ini, potensi pengkaburan benar dan salah akibat penggunaan digitalisasi yang tidak dapat membedakan dunia maya dan nyata.

Sebagai contoh, ketidakbijakan pemanfaatan platform media sosial atau kecanduan gadget, memunculkan tindakan absurd (perilaku yang mustahil, halu atau halusinasi) bagi generasi bangsa. Tindakan absurd ini pun mudah terperdaya dengan kebohongan yang dibenarkan. 

Tentu, jika ditarik dalam wasiat yang dijelaskan Sayyidina Ali, maka inilah bejana ketiga, yaitu kaum yang mudah mengikuti apapun tanpa mengetahui kebenarannya.

3. Nationalism

Baca Juga : 36 Tim Futsal Ikuti Turnamen Hari Santri PAC GP Ansor Kecamatan Gondang, Ini Juaranya..

Karakter penting berikutnya adalah internalisasi nasionalisme. Seorang pemuda seyogyanya tampa dituntut pun, memiliki jiwa nasionalisme karena inilah pembentuk spirit dirinya sebagai pemuda bangsa yang berperan dalam pertahanan bangsa. 

Sebagai contoh jika ditarik sejarah, maka inilah yang disebut oleh Sang Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy'ari sebagai hubbul wathan minal iman, bahwa cinta tanah air adalah sebagian dari iman. Spirit hubbul wathan ini merupakan perwujudkan nasionalisme yang sangat nyata dan kuat, dan pondasi pertahanan kemerdekaan bangsa melalui resolusi jihad 1945 saat itu.

4. Toughness

Toughness disini merujuk pada mental toughness, yaitu perilaku maupun sikap individu yang mampu menyelesaikan tekanan dan kendala yang dihadapi. Dengan begitu, pemuda bermental toughness adalah pemuda yang memiliki pertahanan diri, mulai dari bagaimana ia bangkit dari kesulitan (resiliensi) maupun strategi bertahan (survival strategy).

Mental bertahan dan menyelesaikan kendala terwujud sangat kuat saat era penjajahan dan pertahanan kemerdekaan. Spirit Jihad yang digelorakan melalui resolusi jihad, menjadi tonggak dakwah antikolonialisme dan teladan nasionalisme. 

Kini, sekalipun bukan era pertempuran, bukan berarti pemuda layak berpangku tangan. Pertahanan bangsa tidak bisa dipikirkan hanya saat bangsa menghadapi musuh yang nyata terlihat.

Namun, musuh yang tidak kasat mata pun, sejatinya dipahami dan diselesaikan secara berani oleh pemuda. Salah satu musuh tersebut adalah kebodohan dan ketidakpekaan sosial. 

Kebodohan menjadikan post truth bisa tumbuh subur di dalam sebuah negeri. Begitupun dengan ketidakpekaan sosial, jika tumbuh subur, maka hilanglah persatuan bangsa dan terjadilah situasi kehancuran yang dijelaskan oleh Ibnu Khaldun di atas.

5. Religious

Karakter beragama seharusnya harga mati yang dimiliki oleh pemuda, karena setiap agama mengajarkan kebaikan, terutama dalam berhubungan sosial masyarakat. Sebagai contoh, dalam Islam, disebut dengan ukhuwwah Islamiyyah, yaitu semangat persaudaraan dan kebersamaan, jika spirit ini terjaga, maka sangatlah mungkin, pemuda menjadi tonggak utama yang melawan fitnah, pembunuhan atau pelemahan karakter, ujaran kebencian, dan hoax, yang semuanya hanya mencederai Pancasila sebagai ideologi bangsa. 

6. Integrity

Integritas adalah sifat atau keadaan yang menunjukkan kesatuan potensi dan kemampuan yang secara kuat menjaga kewibawaan dan kejujuran. Dengan begitu, integritas berbicara tentang komitmen, kejujuran, dan karakter yang teguh pendirian. 

Jika ditarik dengan perkembangan digital yang banyak diwarnai oleh framing (pencitraan), maka disinilah integritas dapat mengambil peran. Dalam hal ini, bagaimana sebuah keteguhan, kejujuran, maupun idealisme, tidak mudah terjebak framing negatif hanya memicu provokasi hingga kontradiksi (perbedaan) dengan orang lain yang arahnya menjadi perdebatan atau perselisihan. 

Pada akhirnya, kesemua karakter di atas diharapkan membentuk mental pemuda yang kuat, yaitu pemuda yang siap sebagai garda terdepan pertahanan bangsa. Dengan bekal smart atau ilmu, pemuda akan terasah mengetahui potensi diri dan melahirkan karya untuk bangsa.

Ditambah dengan bekal kemampuan beradaptasi, maka karya pemuda pun mampu bersaing dengan bangsa lain. Kemudian, bekal jiwa nasionalisme yang dijunjung kuat, akan menjadi alasan utama agar pemuda selalu mewujudkan perdamaian dengan sesama pemuda lainnya. 

Terlebih, mental toughness dimilikinya sehingga pemuda tumbuh sebagai pemuda kuat dengan apapun yang dihadapi. Tentunya, karakter agama menjadi warna kuat terjaganya nilai moral dan etika yang baik. Dan kesemua unsur tersebut terintegrasi dalam sebuah ‘integritas’, yaitu usaha kuat untuk menjaga keberlangsungan negeri ini.

Dikembalikan pada makna inti sumpah pemuda yang menguatkan spirit persatuan, maka dengan mencintai persatuan, pemuda akan sangat layak menyandang sebutan ‘Pemimpin Harapan Bangsa’, sesuai prinsip syubbanul yaum rijalul ghod, bahwa pemuda sekarang adalah pemimpin di masa mendatang.

Maka untuk semua pemuda, milikilah karakter-karakter mulia dan bersiaplah membangun segala karya untuk melepas stigma inferior menuju superior diri dan terbentuk peningkatan value (nilai) hidup untuk bangsa Indonesia.

Topik
hari santri nasional anak santri heru budi hartono

Segala opini, saran, pernyataan, jasa, penawaran atau informasi lain yang ada pada isi/konten adalah tanggungjawab penulis bukan JatimTIMES.com.
Kami berhak menolak atau menyunting isi konten yang tidak sesuai dengan kode etik penulisan dan kaidah jurnalistik.
Kami juga berhak menghapus isi/konten karena berbagai alasan dan pertimbangan dan tidak bertanggungjawab atas kegagalan atau penundaan penghapusan materi tersebut.

Berita Lainnya