JATIMTIMES - Suasana hangat terasa di ruang Senat lantai 4 Gedung Rektorat UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Senin (25/8/2025). Di ruangan itu, 11 mahasiswa asing dari tujuh negara resmi memulai perjalanan akademik mereka di kampus yang kerap dijuluki Kampus Ulul Albab.
Para mahasiswa berasal dari Malaysia, Thailand, Yaman, Komoro, Tanzania, Amerika Serikat, dan Libya. Bukan angka yang besar, tetapi keberadaan mereka menegaskan arah UIN Maliki Malang sebagai universitas Islam dengan wajah kosmopolit.
Baca Juga : Tragedi Probolinggo 1813: Kepruk China, Pemberontakan Rakyat, dan Runtuhnya Kekuasaan Han Tik Ko
Acara penyambutan berlangsung dengan kehadiran jajaran pimpinan universitas, antara lain Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan Prof. Triyo Supriyanto, M.Ag., Wakil Rektor Bidang Kerjasama dan Lembaga Pengembangan Prof. Dr. HM Abdul Hamid, MA, Kepala Biro AUPK dan Plt. Biro AAKK Dr. H. Muhtar Hazawawi, M.Ag., serta Ketua Kantor Urusan Internasional Prof. Dr. Hj. Seperti Rascova Octaberlina, M.Ed.

Dalam paparannya, Prof. Abdul Hamid menggarisbawahi kepercayaan mahasiswa asing yang memilih UIN Maliki Malang. “UIN Maliki Malang adalah kampus unggul bereputasi internasional. Kami menerima mahasiswa dari berbagai belahan dunia. Jangan ragu untuk berkonsultasi bila ada kendala, agar perkuliahan kalian berjalan lancar,” ucapnya.
Nada personal lebih kental muncul dari Prof. Triyo Supriyanto yang tak sekadar memberi sambutan, melainkan menawarkan peran sebagai keluarga. “Saya berharap kalian berkomitmen, karena di kampus ini kami akan menjadi keluarga baru kalian. Bila ada masalah, jangan sungkan berkomunikasi dengan kami. Anggaplah saya sebagai ayah kalian di Indonesia,” pesannya.

Usai penyambutan, mahasiswa asing penerima International Student Scholarship (ISS) langsung menandatangani kontrak beasiswa. Dokumen tersebut merinci hak mereka, mulai dari bebas biaya kuliah sesuai jenjang, fasilitas asrama, kursus Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA), hingga pembebasan biaya ujian akhir.
Namun, hak itu datang bersama kewajiban. Mereka harus menanggung biaya pribadi, menjaga IPK minimal 3,00 setiap semester, dan mengikuti seluruh program kampus. Ketentuan ini menjadi pagar yang memastikan para penerima beasiswa benar-benar serius menempuh studi.

Program adaptasi yang dirancang UIN Maliki Malang pun cukup ketat. Selama maksimal dua semester, mahasiswa asing diwajibkan mengikuti kursus BIPA dengan capaian nilai minimal B sebelum memasuki kelas reguler. Bagi mahasiswa sarjana, ada tambahan kewajiban tinggal di Ma’had selama satu tahun penuh.
Baca Juga : Update Demo Hari Ini 25 Agustus: dari BEM Indraprasta hingga Isu Bubarkan DPR
Ma’had bukan sekadar asrama, melainkan pusat pembinaan karakter dan penguatan budaya akademik berbasis nilai keislaman. Di tempat inilah mereka menjalani pelatihan keislaman sekaligus proses adaptasi budaya.
Dengan sistem tersebut, mahasiswa asing tak hanya dibekali pengetahuan akademis, tetapi juga pemahaman nilai sosial, keagamaan, dan kebangsaan yang melekat di kehidupan kampus. PBAK internasional ini pun tidak berhenti pada seremoni penyambutan. Ia menjadi ruang orientasi awal agar mahasiswa asing mengerti aturan akademik, memahami ritme sosial Indonesia, hingga menyiapkan diri untuk perjalanan studi panjang.
UIN Maliki Malang menjadikan program ini sebagai jembatan: dari mahasiswa asing yang baru menginjakkan kaki di Indonesia menuju pribadi yang mampu beradaptasi, berprestasi, dan membawa nama kampus ke panggung global.
