Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Peristiwa

Kapan Lebaran 2026? Ini Prediksi LF PBNU dari Data Hilal 1 Syawal

Penulis : Binti Nikmatur - Editor : Dede Nana

15 - Mar - 2026, 07:59

Placeholder
Ilustrasi Hari Raya Idulfitri. (Foto: Shutterstock)

JATIMTIMES - Pertanyaan mengenai kapan Hari Raya Idul Fitri 2026 mulai menemui titik terang. Lembaga Falakiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LF PBNU) merilis data perhitungan hilal untuk penentuan awal bulan Syawal 1447 Hijriah.

Dalam informasi hilal awal Syawal yang dirilis LF PBNU, disebutkan bahwa posisi hilal pada 29 Ramadan 1447 H yang bertepatan dengan Kamis Kliwon, 19 Maret 2026 sebenarnya sudah berada di atas ufuk. Namun, ketinggiannya masih belum memenuhi kriteria imkanur rukyah, yaitu syarat minimal hilal dapat terlihat saat pengamatan.

Baca Juga : Diskon Tarif Tol 30 Persen Saat Arus Balik Lebaran 2026, Cek Jadwal dan Ruas Tol yang Berlaku

Data falakiyah tersebut menunjukkan perbedaan ketinggian hilal di berbagai wilayah Indonesia.

Titik dengan ketinggian hilal tertinggi tercatat berada di Kota Sabang, Aceh. Di wilayah ini, tinggi hilal mar’i mencapai 2 derajat 53 menit, dengan elongasi hilal haqiqy 6 derajat 09 menit, serta lama hilal berada di atas ufuk sekitar 14 menit 44 detik.

Sebaliknya, posisi hilal paling rendah terjadi di Merauke, Papua Selatan. Di daerah tersebut, tinggi hilal mar’i hanya 0 derajat 49 menit, dengan elongasi 4 derajat 36 menit dan lama hilal sekitar 6 menit 36 detik.

LF PBNU juga mencantumkan data pengamatan dari titik markaz di Gedung PBNU, Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat dengan koordinat 6º 11’ 25” LS dan 106º 50’ 50” BT.

Di titik ini, tinggi hilal tercatat 1 derajat 43 menit 54 detik. Sementara matahari terbenam berada pada posisi 12 derajat 03 menit 24 detik selatan titik barat. Adapun elongasi hilal berada di angka 5 derajat 44 menit 49 detik, dengan lama hilal bertahan di atas ufuk sekitar 10 menit 51 detik.

Dalam data yang sama juga disebutkan bahwa ijtimak (konjungsi) terjadi pada Kamis Kliwon, 19 Maret 2026 pukul 08.25.58 WIB.

Perhitungan tersebut dilakukan menggunakan metode falak hisab tahqiqi tadqiki ashri kontemporer yang selama ini menjadi metode khas Nahdlatul Ulama.

Selain dari LF PBNU, data perhitungan hilal juga dirilis oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dalam informasi prakiraan hilal saat matahari terbenam pada 19 Maret 2026.

BMKG menjelaskan bahwa konjungsi terjadi pada:
• 19 Maret 2026 pukul 01.23.23 UT
• 19 Maret 2026 pukul 08.23.23 WIB
• 19 Maret 2026 pukul 09.23.23 WITA
• 19 Maret 2026 pukul 10.23.23 WIT
Konjungsi tersebut terjadi ketika bujur ekliptika Matahari dan Bulan berada pada posisi yang sama, yakni 358,45 derajat.

Baca Juga : Hukum Merayakan Lebaran Ketupat dalam Islam, Tradisi Jawa yang Sarat Makna Silaturahmi

Di Indonesia, waktu matahari terbenam pada tanggal tersebut juga berbeda-beda di tiap daerah. Wilayah yang paling awal mengalami matahari terbenam adalah Waris, Papua pada pukul 17.48.13 WIT, sedangkan yang paling akhir terjadi di Banda Aceh pada pukul 18.49.39 WIB. Berdasarkan data itu, konjungsi terjadi sebelum matahari terbenam di seluruh wilayah Indonesia.

BMKG mencatat tinggi hilal di Indonesia saat matahari terbenam pada 19 Maret 2026 berada di kisaran 0,91 derajat di Merauke hingga 3,13 derajat di Sabang.
Sementara itu, nilai elongasi geosentris berkisar antara 4,54 derajat di Waris hingga 6,1 derajat di Banda Aceh.

Adapun umur bulan saat matahari terbenam berada pada rentang 7,41 jam di Waris hingga 10,44 jam di Banda Aceh. Lama hilal berada di atas ufuk juga relatif singkat, yakni antara 5,6 menit di Merauke hingga 15,66 menit di Sabang. Dengan kondisi tersebut, posisi hilal secara umum dinilai belum memenuhi kriteria imkanur rukyah.

Karena itu, ada kemungkinan besar bulan Ramadan tahun ini akan digenapkan menjadi 30 hari (istikmal). Jika skenario itu terjadi, maka Idul Fitri 1447 H berpotensi jatuh pada Sabtu Pahing, 21 Maret 2026.

Meski begitu, kepastian awal bulan Syawal tetap menunggu hasil rukyatul hilal atau pengamatan langsung hilal di berbagai titik di Indonesia. Hasil pengamatan tersebut nantinya akan dibahas dalam sidang isbat yang digelar pemerintah melalui Kementerian Agama.

Sidang penentuan awal Syawal dijadwalkan berlangsung pada Kamis malam, 19 Maret 2026. Hasil sidang itulah yang nantinya menjadi keputusan resmi mengenai kapan umat Islam di Indonesia merayakan Hari Raya Idul Fitri 2026.


Topik

Peristiwa lebaran hari raya idulfitri kapan lebaran



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Surabaya Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Binti Nikmatur

Editor

Dede Nana