Selat Madura Tercemar, Mupalas Desak Gubernur Buat Perda Larangan Plastik Sekali Pakai | Surabaya TIMES

Selat Madura Tercemar, Mupalas Desak Gubernur Buat Perda Larangan Plastik Sekali Pakai

Feb 22, 2021 18:38
Brand audit yang digelar Mupalas di pesisir pantai timur Surabaya
Brand audit yang digelar Mupalas di pesisir pantai timur Surabaya

SURABAYATIMES- Mahasiswa Pecinta Alam Universitas Muhammadiyah Surabaya (MUPALAS) melakukan kegiatan audit merk-merk bungkus plastik yang menjadi sampah pada perairan (Brand Audit) di tiga lokasi sepanjang garis pantai timur Surabaya hingga Kenjeran pada tanggal 4-15 Februari 2021.

Selama dua hari kegiatan brand audit, ditemukan 25 karung dengan berat 1534 kilogram. Dari 1510 lembar sachet ditemukan 10 teratas produsen terbanyak penyumbang sampah plastik yaitu PT. Wings, Nestle, PT. Forisa Nusa Persada, Indofood, PT. Mayora Indah, PT. Santos Jaya Abadi, Frisian Flag, PT. Marimas Putera Kencana, Karunia Alam Segar, dan Nutrifood. 

Baca Juga : Bupati Bondowoso Serahkan 312 SK PPPK kepada Tenaga Guru dan Penyuluh Pertanian

“Dari 10 perusahaan ini yang mendominasi penyumbang sampah terbanyak adalah PT. Wings. Perusahaan ini merupakan penghasil produk-produk rumah tangga dan pemeliharaan kesehatan diri (personal care),” ujar Randu Ketua Umum Mupalas.

Lebih lanjut, Mahasiswi Semester 8 Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Surabaya mendorong Gubernur Jatim untuk membuat Perda Larangan Plastik Sekali Pakai dan mengajak masyarakat untuk mengurangi penggunaan habis pakai dan plastic seperti popok sekali pakai, kantong plastik, styrofoam, sedotan, botol plastik dan kemasan sachet. 

Temuan sampah tidak bermerk didominasi kantong plastik dan sedotan yang penyumbang terbanyak sampah laut, membuktikan bahwa banyaknya aktivitas masyarakat yang masih bergantung pada pengggunaan kemasan kantong plastik dan sedotan. Pada kemasan kantong plastik diduga merupakan bagian banyak dari sampah rumah tangga.

Kesimpulan dari hasil brand audit ini menunjukkan bahwa sampah kebutuhan aktivitas rumah tangga masih mendominasi. Orang menggunakan plastik jika dilihat dari kacamata sosiologi merupakan sebuah fenomena di mana orang ingin cepat dan praktis. Namun, dampak dari sampah plastik ini lebih banyak daripada manfaatnya, maka sampah plastik ini akan terus menjadi permasalahan yang serius.  

Lokasi Brand Audit

1. Brand Audit Pesisir

Dilakukan sepanjang daris pantai yang ada di Daerah Kenjeran, Sukolilo dan Tambak Wedi.  

2. Brand Audit Sampah Laut

Sampah plastik diambil di dasar hingga permukaan laut pada koordinat -6o55’51” LS 112o 27’8” BT selanjutnya sampah dipilah di pesisir.

3. Brand Audit Muara/Mangrove

Baca Juga : Laksanakan Perintah Gubernur, Plh Bupati Hadi Pulihkan Birokrasi di Jember

Sampah yang tersangkut pada ekosistem mangrove di Muara Kali Surabaya pada koordinat -7o30’76”071,112o8219487.

Khawatir terkait dampak mikroplastik pada lingkungan dan biota laut di Selat Madura, Mupalas mendesak :

Pertama pada Dinas Lingkungan Hidup Kota Surabaya untuk melakukan clean up (pembersihan sampah-sampah sachet) sepanjang pantai utara Surabaya dan meningkatkan pelayanan bank sampah di sekitarnya sehingga masyarakat kota bisa terlayani.

Kedua pada Pemerintah Provinsi Jawa Timur untuk membuat Perda pelarangan/pengurangan plastik sekali pakai sebagai upaya mengendalikan timbulnya sampah plastik di sungai dan pesisir. Serta menjaga kualitas hasil laut dan kualitas perairan pada wilayah pesisir utara Jawa Timur dan Selat Madura, dengan menetapkan zona tangkap aman dari mikroplastik.  

Ketiga pada produsen penghasil plastik, untuk bertanggung jawab menarik kembali atas sampah produksinya, dan menjalankan kewajiban pengelolaan atas sampah yang dihasilkan atau Extended Produsen Responsibility.

Keempat, pada masyarakat untuk memilah sampah menjadi tiga yakni; sampah residu dibuang di TPA, sampah daur ulang dikumpulkan di Bank Sampah, dan sampah organik dimanfaatkan sebagai pupuk.  

Topik
mupalas universitas muhammadiyah surabaya Universitas Muhammadiyah Surabaya

Berita Lainnya