Jhonny Thio Doran
Jhonny Thio Doran

Jhonny Thio Doran meraih kesuksesan di usia muda. Namun siapa sangka, jika pengusaha Wearable Gadget & Accessories merek-merek ternama ini sempat melewati masa-masa perjuangan di sebuah kamar kos berukuran 1,5 x 4 meter. 

Dijumpai di ruang kerjanya, Jhonny menceritakan awal mula ia membangun kerajaan bisnis pada tahun 2008 silam. "Saya memulai usaha dari kamar kos-kosan berukuran 1,5 x 4 meter," terang Jhonny, Selasa (1/12/2020) di Surabaya.

Saat itu, ia berjualan secara online melalui platform Kaskus. Karena terganjal modal, ia memulai dengan menjadi dropshipper jam tangan murah. Selain berjualan jam, Jhonny juga mengerjakan beberapa project pembuatan website dari klien. 

Prospek penjualan jam tangan tersebut cukup bagus. Awalnya ia tak memiliki stok sama sekali. Namun, lambat laun terkumpul modal yang dapat digunakan untuk memulai usaha penjualan casing handphone. "Saat itu sangat Booming dengan handphone Blackberry," kenang CEO dari Doran Group & JETE Indonesia tersebut. 

Upaya tersebut membuahkan hasil. Pelan tapi pasti. Bisnisnya kian melesat. Kini, Jhonny fokus mengembangkan usaha di bidang Wearable Gadget & Accessories yang membawa brand JETE, Garmin, Samsung Wearable, DJI, Gopro, Sandisk, Logitech. 

Ia menyadari tak semudah membalik telapak tangan menggapai kesuksesan. Banyak kisah suka duka saat membuka usaha yang ia geluti saat ini. Mulai kepuasan melihat kinerja tim hingga menerjang masa-masa sulit.

"Sukanya saat melihat tim saya terus bertumbuh, tim yang saya bangun dari awal bergabung dengan perusahaan, terus bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik dan memiliki banyak pengalaman, yang paling penting mereka dapat membawa perubahan positif untuk keluarga kecil mereka," imbuh pria kelahiran Samarinda, 18 Juni 1986 tersebut. 

Kendati demikian, ia juga sempat melewati masa-masa yang tak mudah. Jhonny menganggap rintangan itu harus ditaklukkan. Tantangan adalah pembelajaran untuk membuatnya lebih berkembang dan terus belajar.  "Jadi hingga saat ini, saya tidak pernah mengingat hal-hal duka yang pernah saya lewati. Untuk apa mengingat hal negatif bila kita bisa mengingat hal yang positif," ujarnya optimistis. 

Di sisi lain, banyak pelajaran hidup ia temui dari sekeliling. Bahkan sebuah pengalaman tak terlupakan yang mengantarnya menuju kesuksesan. 

Perjalanan seorang rekan yang juga pernah menduduki posisi general manager di perusahaan miliknya.  "Totalitas hatinya ada di perusahaan, suka duka selalu bersama saya, tidak pernah mengeluh dan selalu mengerti apa yang hari kita kerjakan bersama," ucap Jhonny. 

Namun takdir berkata lain. Pada tahun 2019, temannya tersebut mengidap penyakit dan harus menghadap ke Sang Pencipta. "Nama beliau adalah Dicky Ibrahim. Beliau sangat berjasa kepada saya dan perusahaan. Tanpa beliau, tidak ada Doran di hari ini," tandasnya. 

Aktif Berorganisasi di JCI

Setelah usahanya makin moncer, pada suatu titik, Jhonny merasakan kejenuhan karena terus berada dalam ruangan kantor. Ia ingin bersosialisasi serta melebarkan jaringan melalui organisasi. "Bila saya selalu di kantor maka tidak akan punya banyak teman," ungkapnya. 

Akhirnya ia memutuskan untuk bergabung bersama Junior Chamber Indonesia (JCI) East Java pada tahun 2016 dengan tujuan menambah relasi dan networking. "Saya melihat organisasi JCI East Java ini sangat positif, terutama leader saat itu, yang selalu semangat dan membuat agenda yang baik untuk member," tambahnya. 

Di JCI, lanjut Jhonny, ia banyak belajar tentang leadership & make a real impactful project. "Bagi saya, belajar adalah dengan cara aktif berpartisipasi dan berkarya, karena itu saya menyanggupi untuk menjadi ketua dari organisasi ini," ucap Jhonny yang kini didaulat menjadi President JCI East Java. 

Makna Kesuksesan

Langkah demi langkah telah mengantar Jhonny Thio Doran menuju karpet merah kesuksesan. Namun baginya, sukses ternyata tak melulu soal materi dan uang.  "Bagi saya, kesuksesan harus sesuai dengan 4 prioritas hidup saya," ujarnya. 

Prioritas hidup tersebut adalah 4K. Kesehatan, yaitu memiliki kesehatan yang baik. Keluarga, artinya dapat menjadi pemimpin yang membawa keluarga besar harmonis dan saling menghormati. Kerja, dapat menjadi pemimpin yang membawa perusahaan dan seluruh tim di dalamnya menjadi lebih baik dan Komunitas.

"Bersama komunitas dan organisasi di mana pun kita berada, kita dapat membuat hal positif yang nyata yang manfaatnya dapat dirasakan oleh orang banyak," imbuhnya. 

Lantas, adakah cita-cita atau target yang belum terwujud bahkan tertunda tahun ini karena pandemi? Jhonny tersenyum ringan. Ia ingin membawa membawa keluarganya melancong dan selebihnya menyesuaikan diri dalam situasi pandemi ini. 

"Saya ingin membawa keluarga saya, ayah, ibu, istri, anak dan saudari saya yang tercinta untuk bertamasya. Selebihnya, untuk soal target perusahaan, kami sudah berada di pencapaian yang baik, karena kami terus belajar dan menyesuaikan diri terhadap perubahan yang terjadi selama pandemi," jelas lulusan iSTTS Surabaya Jurusan Informatika ini. 

Survive di tengah pandemi adalah keniscayaan. Sebagai seorang pebisnis, Jhonny melihat tidak ada tantangan yang tidak dapat dilewati. Bila tidak bisa, bisa jadi karena belum tahu cara nya. Kalau sudah tahu, maka sudah pasti bisa melewati. 

Karena itu, bila terjadi pandemi, ia justru semakin terpacu untuk semangat belajar, tidak malah membuatnya loyo dan menyerah. "Buka mata lebar-lebar, harus terus rendah hati untuk mau belajar dari siapapun, mau bertanya dengan siapapun, yang paling penting harus terus bertindak, jangan kebanyakan teori saja tapi hasil 0 besar," pesannya. 

Selain itu, penghobi lari, sepeda, basket, bernyanyi dan membaca buku ini juga memiliki lima prinsip yang selalu menjadi pegangan. 

Disiplin belajar dan bekerja keras setiap hari tanpa mengeluh, komitmen terhadap target dan hal-hal kecil yang sudah ditargetkan tanpa kompromi, konsisten untuk terus berkarya. Walau belum ada hasil, tetap lakukan terus, karena ia meyakini hasil itu pasti dalam genggaman. Selanjutnya take action, tidak kebanyakan teori. Bila gagal, coba lagi. Karena baginya tidak ada kata gagal, yang ada adalah sukses atau belajar. 

Terakhir, prinsip sabar menunggu hasil. Kebanyakan orang jika sudah gagal lima kali tak akan mau mencoba lagi. "Harus sabar. Coba terus sampai ada hasil, tapi tentu dengan cara-cara yang baru, jangan pakai cara yang sama, nanti percuma," tuntas Jhonny Thio Doran.(*)