Akademisi Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Unair, Rumayya
Akademisi Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Unair, Rumayya

Dalam debat ke II Pilkada Surabaya Rabu Malam (18/11), calon Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi secara percaya diri bicara soal perekonomian. Namun, ternyata dia keliru. Salah satunya ketika menyampaikan perihal ICOR (incremental capital-output ratio).

”ICOR Kota Surabaya harus kita angkat. Semakin tinggi nilai ICOR itu semakin bagus,” ujar Eri seraya melihat catatan yang ada di depannya. 

Pernyataan Eri itu cukup mengejutkan. Hal itu terbalik dari realita di lapangan. 

Menurut Rumayya, akademisi dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Airlangga. Seharusnya ICOR harus diturunkan, bukan malah dinaikkan. 

”Jadi memang keliru. Diturunkan, dikecilkan bukan dinaikkan,” ujarnya ketika dimintai pendapat Kamis (19/11). 

Menurut dia ICOR itu adalah suatu ukuran. Di mana pertambahan output dibagi sama modal. ”Jadi kalau di suatu daerah ada penambahan output, kalau itu semakin besar semakin tak efisien ekonomi. Harus diturunkan malahan ICOR,” lanjutnya. 

Dia menjelaskan, jika ICOR turun artinya kita bisa membuat output lebih banyak dengan input yang lebih sedikit. 

Rumayya berpendapat jika bicara soal itu ranahnya efisiensi investasi. ”Investasi kita lebih efisien dalam artian dampaknya lebih luas dengan menciptakan lapangan pekerjaan, menciptakan pendapatan,” beber dia. 

Pun demikian halnya dengan ILOR (incremental labour-output ratio). ”ILOR sama saja. Cuma ini tenaga kerja. Kalau ini naik berarti butuh tenaga kerja lebih banyak untuk menghasilkan output. Kalau dia turun berarti pekerja semakin produktif, pekerjanya makin sedikit menghasilkan lebih tinggi," pungkas dia. 

Dalam kurun waktu 2012-2015, ICOR Surabaya terus naik. Pada 2015 mencapai 4,30. Itu angka yang cukup tinggi alias buruk. Iklim investasi di satu kota dianggap baik kalau ICOR maksimal di angka 4,00.