Inisiator Hari Santri Nasional dan Pengasuh Pondok Pesantren Babussalam-Pagelaran, KH. Thoriq Bin Ziyad saat ditemui awak media. (Foto: Dok. JatimTimes) 
Inisiator Hari Santri Nasional dan Pengasuh Pondok Pesantren Babussalam-Pagelaran, KH. Thoriq Bin Ziyad saat ditemui awak media. (Foto: Dok. JatimTimes) 

Inisiator Hari Santri Nasional, KH. Thoriq Bin Ziyad sebut kehadiran santri di tanah air Indonesia harus mendapatkan pengakuan di seluruh masyarakat atas jasa-jasanya yang turut serta dalam kemerdekaan Indonesia. 

Pria yang akrab disapa Gus Thoriq ini mengatakan bahwa pada saat zaman penjajahan, garda terdepan dalam memerangi para penjajah yang menindas bangsa Indonesia salah satunya santri dan para ulama. 

"Saya bilang, bahwa santri, ulama dan ahli ilmu, waktu itu menjadi garda terdepan dalam menghadapi penjajahan. Karena saat masa penjajahan itu, orang yang bisa sekolah juga kalangan priyayi dan bangsa asing," ungkap ulama yang merupakan pengasuh Pondok Pesantren Babussalam, Pagelaran, Kabupaten Malang, Rabu (21/10/2020). 

Para santri yang menempuh pendidikan di dalam sebuah pondok pesantren dikatakan Gus Thoriq bahwa mereka semua merupakan orang-orang yang akan dicetak sebagai intelektual-intelektual muda masa depan dalam memberikan kebermanfaatan untuk banyak orang. 

"Saat ini ada kelompok masyarakat atau kelompok intelektual muslim di tengah masyarakat yang terus belajar agar mereka bisa semakin mudah dalam memberikan manfaatnya pada sistem kenegaraan," jelasnya. 

Santri pun sangat memberikan banyak perjuangan demi kemerdekaan Indonesia. Salah satu ulama khos yang memiliki gelar Hadratussyaikh yakni KH. Hasyim Asy'ari salah satu tokoh yang memegang peranan penting dalam perumusan Pancasila. "Di mana KH. Hasyim Asyari adalah sosok yang memiliki figur kebangsaan, keilmuan dan juga menginisiasi resolusi jihad melawan penjajahan pada 22 Oktober," jelas Gus Thoriq. 

Lanjut Gus Thoriq bahwa keberadaan santri di Indonesia tidak pernah ada penolakan dari masyarakat. Pun sebaliknya keberadaan santri terus memberikan manfaat bagi keberlangsungan berbangsa dan bernegara. 

Ulama yang juga merupakan alumni Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang ini juga menyebut bahwa dibandingkan dengan perayaan-perayaan budaya barat yang kerap kali dirayakan oleh masyarakat Indonesia, Hari Santri Nasional lebih penting untuk dirayakan. 

Gus Thoriq pun menuturkan bahwa tercetusnya Hari Santri Nasional bermula pada tahun 2009 yang membicarakan pentingnya pengakuan terhadap keberadaan santri di Indonesia. "Dulu awalnya tahun 2009, ada budaya negara luar yang diperingati tanpa ada filter dan edukasi di dalamnya. Seperti hari Valentine, atau juga Halloween. Di situlah menurut saya bahwa santri perlu ada peringatannya," tegasnya. 

Dengan ditetapkannya Hari Santri Nasional di Indonesia setiap tanggal 22 Oktober 2020 memberikan dampak yang luar biasa di dunia santri dan lembaga pendidikan yang menampung para santri untuk terus belajar. "Saya melihat hari santri dan saat ini, sangat di luar ekspektasi. Bahkan jauh melebihi harapan saya. Contohnya pengalokasian anggaran untuk ponpes-ponpes yang sudah berkali-kali lipat dari sebelum ada hari santri," ungkapnya. 

Selain itu, disampaikan Gus Thoriq bahwa banyak kalangan ASN (Aparatur Sipil Negera) yang berasal dari kalangan santri. Hal ini membuktikan bahwa peran santri sejak dulu hingga sekarang akan terus sama yakni memberikan kebermanfaatan untuk orang banyak, bangsa dan negara. 

Sementara itu dalam peringatan Hari Santri Nasional pada tahun 2020 ini, Gus Thoriq menitipkan pesan kepada seluruh santri yang ada di Indonesia, agar tetap mengetahui dan mengakui keesaan Allah dan dapat menempatkan diri sesuai zamannya. 

"Sesuai dawuh kiai saya yaitu KH. Maimoen Zubair bahwa santri khususnya yang ada di ponpes itu harus Al Arif Billah Wal Arif fi Zamanihi. Atinya mengakui keesaan Allah dan menempatkan diri sesuai zamannya," tutupnya.