Calon Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi
Calon Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi

Sepuluh tahun kepemimpinan Tri Rismaharini berjalan. Sepanjang itu, Pasar Tunjungan yang ada di jantung kota mati.

Padahal, dengan lokasi yang begitu strategis, Pasar Tunjungan bisa menjadi sentra pengembangan UMKM. Di sana juga dahulunya disebut sebagai kawasan segi tiga emas Kota Surabaya atau pusat bisnis.

Topik itu menjadi salah satu tema yang dibahas dalam sambung rasa Kadin Surabaya dengan pasangan calon wali kota dan wakil wali kota Rabu (13/10) malam. 

Anthony Utomo, salah seorang pengusaha yang menjadi peserta diskusi, sempat menanyakan permasalahan Pasar Tunjungan. Dia bertanya langsung kepada calon wali kota Eri Cahyadi yang memiliki latar belakang birokrat sebagai mantan Kepala Bappeko Pemkot Surabaya.

”Sudah 10 tahun Bu Risma memimpin, Pasar Tunjungan tetap mati, bagaimana Mas Eri bisa membangunkan. Seharusnya bisa menjadi pusat UMKM, karena untuk masuk mal kadang terlalu mahal untuk UMKM,” tanya Anthony. ”Kalau kelamaan mati nanti menjadi lokasi jerit malam,” tutupnya. 

Mendapatkan pertanyaan itu, Eri memberi jawaban berbelit. Ia berdalih bahwa pasar-pasar yang dikelola PD Pasar tidak bisa langsung diintervensi oleh Pemkot. ”Perusahaan daerah memiliki direktori yang jelas, tidak bisa langsung diintervensi,” kilahnya. 

Padahal sebenarnya perusahaan daerah seperti PD Pasar Surya memiliki tugas utama membantu pemkot untuk menyejahterakan warga. Kepentingan pemkot untuk menyejahterakan warga ini harus bisa dijalankan PD Pasar Surya.

Apalagi, wali kota punya kewenangan penuh untuk mengangkat direksi perusahaan daerah termasuk PD Pasar Surya. Jika memang wali kota ingin menghidupkan Pasar Tunjungan, bisa saja memberikan perintah ke PD Pasar Surya untuk memprioritaskan pasar tersebut. 

Namun, dalam jawaban lanjutannya, Eri menyebut akan membangun Pasar Tunjungan pada 2021. ”Sudah siap dibangun tahun ini, namun batal karena pandemi,” ucapnya.

Jawaban tersebut tentu bertentangan dengan sebelumnya. Di satu sisi menyebut tidak bisa langsung mengintervensi, di sisi lain langsung menyatakan akan dibangun tahun ini juga. 

Mengecek pada kelompok pedagang Pasar Tunjungan, belum ada sama sekali rencana revitalisasi pasar. ”Bu Risma selama 10 tahun ini begitu memberatkan kami selaku pedagang Pasar Tunjungan. Pasar mati karena tidak diperbaiki, namun kami tetap harus membayar retribusi. Entah sampai kapan ini akan terjadi,” keluh M. Farid, salah seorang pemilik stan di Pasar Tunjungan.