Pakar epidemiologi Unair Windhu Purnomo
Pakar epidemiologi Unair Windhu Purnomo

 Setelah mengklaim Surabaya sebagai zona hijau covid-19, Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini nekat meminta sekolah untuk buka kembali.

Melalui Dinas Pendidikan (Dispendik),  Pemkot Surabaya berencana memulai proses belajar mengajar (PBM) di sekolah bagi siswa jenjang SMP. Untuk tahap awal, akan dimulai di 21 SMP, baik itu swasta maupun negeri, yang mewakili 5 wilayah sekolah di Surabaya sebagai pilot project. 

"Belum berani buka SD. Dahulukan SMP. Surabaya satu bulan sudah hijau," kata Wali Kota Risma di balai kota.

Menurut dia. keputusan tersebut diambil karena banyaknya pelajar yang diketahui keluyuran saat malam hari. "Tapi dengan protokol kesehatan yang ketat," pesan Risma kepada sekolah yang diminta buka.

Keputusan Risma untuk membuka sekolah ini lantas dipertanyakan oleh pakar epidemiologi Unair Dr Windhu Purnomo. Menurut dia, saat ini Surabaya masih masuk zona merah dan masih jauh dari hijau. 

"Satu-satunya di Jawa Timur yang pernah hijau Kota Madiun. Itu pun bertahan selama satu minggu. Setelah itu, berubah lagi," ungkapnya.

Karena itu, menurut Whindu, rencana Wali Kota Risma untuk membuka sekolah kembali dianggap sangat berisiko tinggi. "Satgas pusat sudah menetapkan SOP pendidikan bisa buka kalau hijau. Bukan oranye, kuning, apalagi merah," ujarnya.

Bahkan ketika zonasi Surabaya telah berubah hijau pun, menurut Windhu, pemkot tak bisa langsung membuka kegiatan belajar mengajar tatap muka siswa SMP. "Itu pun kalau sudah hijau, bukan hijau semangka. Luar hijau dalamnya merah. Hijau betul saja tidak bisa langsung buka SMP," ucapnya.

Whindu pun berpesan agar pembukaan kegiatan belajar mengajar tatap muka di sekolah didahului dengan jenjang lembaga pendidikan yang lebih tinggi. Yakni tingkat SMA.

"Kalau (SMA) dievaluasi bagus, baru buka SMP. Evaluasi bagus, baru boleh buka SD. Kalau bagus TK, baru PAUD. Ada urutannya," lanjut dia.

Windhu menambahkan, jika sekolah dibuka, otomatis waktu siswa di luar rumah akan lebih banyak. Mulai dari ketika perjalanan berangkat ke sekolah hingga saat pulang. "Saat berangkat mungkin menggunakan transportasi umum. Dan pulang bisa keluyuran. Pulang dan pergi ini harus diperhatikan," imbuh dia.