Ilustrasi rupiah
Ilustrasi rupiah

SURABAYATIMES - Sejak dibentuk Mei hingga akhir Juli saat ini, anggaran bantuan bagi Kampung Tangguh Anti-Covid-19 di Surabaya ternyata belum cair. Sehingga sudah berjalan tiga bulan lamanya warga belum dapat bantuan.

Ini sebagaimana dikeluhkan warga di Kelurahan dr Sutomo, Kecamatan Tegalsari, Sentot. Dia mengeluhkan terlambatnya bantuan dari Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya kepada masyarakat yang terkena pandemi. 

Sentot mengungkapkan, akibat permasalahan yang ada, warga di wilayahnya mulai kehabisan energi. "Masyarakat sudah all out swadaya melawan pandemi. Energinya mulai ngedrop," kata pria yang juga ketua LPMK di Kelurahan dr Soetomo ini.

Menurut dia, masyarakat mengalami ketakutan saat ini. "Memang betul semua ditanggung pemerintah, tapi tidak on time. Masyarakat juga sering bingung karena satu sembuh lalu nyusul yang sakit lainnya," imbuh Sentot.

Terpisah, ketika dikonfirmasi, Wakil Wali Kota Surabaya Whisnu Sakti Buana mengaku sudah mendengar keluhan dan mendapatkan laporan terkait belum turunnya bantuan ini. Dan dia memastikan  hal itu menjadi catatan penting pihaknya.

"Update data saat ini menjadi fokus utama dari pemerintah kota. Kelurahan dan puskesmas menjadi ujung tombak untuk memperkuat hal itu," ujarnya.

Untuk lebih meringankan beban warga, pria yang akrab disapa WS ini pun menjanjikan dana stimulan Rp 10 juta per RW atau setiap Kampung Tangguh Anti Covid-19 akan segera dicairkan. "Karena ini diharapkan bisa membantu warga jika bantuan-bantuan tadi itu terlambat datang," ungkapnya.

Dia menambahkan pihaknya saat ini sedang mengkaji dari sisi aturan. "Kata sekda, sedang menunggu lampu hijau dari BPK. Saya minta agar segera dikejar sehingga bisa memperingan beban warga selama pandemi ini," imbuhnya.