Komitmen Melesat, Unikama Dorong 35 Dosen Lektor Kepala Jadi Guru Besar Baru

Editor

A Yahya

24 - May - 2026, 06:42

Rektor Unikama, Prof. Dr. Sudi Dul Aji M.Si (Anggara Sudiongko/JatimTIMES)

JATIMTIMES - Pengukuhan Rektor Universitas PGRI Kanjuruhan Malang (Unikama), Prof. Dr. Sudi Dul Aji M.Si, sebagai guru besar dinilai menjadi titik penting kebangkitan kekuatan akademik kampus. Di balik capaian tersebut, tersimpan potensi besar yang kini mulai disiapkan Unikama, yakni mendorong sekitar 35 dosen bergelar Lektor Kepala naik jenjang menjadi profesor.

Jumlah itu bukan angka kecil. Jika sebagian besar berhasil mencapai guru besar dalam beberapa tahun ke depan, Unikama berpotensi mengalami lonjakan signifikan dalam kualitas akademik, reputasi institusi, hingga daya saing perguruan tinggi di tingkat nasional.

Baca Juga : Profil Dena Desy, Wanita yang Kini Resmi Jadi Istri Anji Manji

Prof Sudi Dul Aji mengatakan, posisi lektor kepala sebenarnya sudah berada satu tahap menuju profesor. Karena itu, kampus kini mulai fokus mempercepat proses tersebut melalui berbagai strategi pendampingan.

“Nah, sampai sekarang sudah hampir sekitar 35 dosen yang mencapai lektor kepala. Sehingga inilah yang kita dorong untuk bisa masuk guru besar,” ujarnya belum lama ini. 

Potensi besar itu dinilai dapat menjadi kekuatan baru Unikama sebagai kampus berbasis riset dan publikasi ilmiah. Semakin banyak profesor, semakin besar pula peluang kampus memperluas jejaring penelitian, meningkatkan kualitas pembelajaran, hingga memperkuat akreditasi institusi maupun program studi.

Tak hanya itu, keberadaan guru besar juga dapat mendongkrak kepercayaan masyarakat terhadap kualitas sumber daya manusia di lingkungan kampus. Dalam dunia perguruan tinggi, jumlah profesor sering menjadi salah satu indikator utama kematangan akademik sebuah universitas.

Saat ini, tantangan terbesar menuju profesor berada pada syarat publikasi jurnal internasional bereputasi. Pada 2026, syarat pengajuan guru besar bahkan diperketat menjadi dua jurnal internasional terindeks Scopus.

“Kalau dulu masih satu jurnal terindeks Scopus, sekarang dua. Sehingga dosen-dosen yang sebelumnya sudah siap harus mempersiapkan diri kembali,” kata Prof Sudi.

Melihat tantangan tersebut, Unikama mulai menyiapkan skema subsidi publikasi ilmiah bagi dosen yang tengah mengejar guru besar. Kampus juga membuka pendampingan penulisan artikel ilmiah dan penguatan kolaborasi riset agar proses percepatan dapat berjalan lebih maksimal.

Baca Juga : Kurikulum SMK Berkejaran dengan Akselerasi Teknologi, Masihkah Pendidikan Vokasi Relevan dengan Lapangan Kerja?

“Nanti publikasi yang akan mereka submit, kita lakukan subsidi. Itu bagian dukungan kampus,” jelasnya.

Jika 35 lektor kepala itu berhasil didorong naik menjadi profesor, dampaknya diperkirakan tidak hanya terasa di lingkungan internal kampus. Unikama berpeluang menjadi salah satu perguruan tinggi swasta dengan pertumbuhan guru besar tercepat di Jawa Timur.

Kondisi itu juga bisa memperkuat posisi Unikama dalam kompetisi hibah penelitian nasional, kerja sama internasional, hingga peningkatan kualitas lulusan. Sebab, keberadaan profesor biasanya berbanding lurus dengan produktivitas riset dan inovasi kampus.

Prof Sudi menegaskan, capaian akademik tidak bisa dibangun secara individual. Menurutnya, budaya kerja tim menjadi kunci lahirnya lebih banyak profesor di lingkungan Unikama.

“Karena sebuah tim, kita tidak bisa sendiri dalam penelitian-penelitian yang dikembangkan,” ujarnya.