HKB 2026 Perkuat Budaya Sadar Bencana dan Ketangguhan Nasional

26 - Apr - 2026, 04:37

Kepala BPBD Jember Drs. Edi B Susilo saat menyalami peserta kemah dalam acara HKB 2026

JATIMTIMES - Peringatan Hari Kesiapsiagaan Bencana (HKB) 2026 kembali menjadi momentum penting dalam membangun budaya sadar bencana di Indonesia. Kegiatan ini menegaskan komitmen nasional untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi berbagai potensi bencana yang semakin kompleks.

HKB berakar dari lahirnya Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, yang mengubah paradigma penanganan bencana dari reaktif menjadi preventif dan berbasis risiko. Sejak ditetapkan pada 2016, HKB terus berkembang sebagai gerakan nasional yang melibatkan berbagai elemen masyarakat.

Baca Juga : BRIN Dorong UMKM Surabaya Level Up, dengan Pemanfatan Tekhnologi Digital

Kepala BPBD Kabupaten Jember Edy Budi Susilo menyampaikan, memasuki satu dekade pelaksanaannya, HKB 2026 tidak hanya menjadi ajang seremoni, tetapi juga implementasi nyata penguatan ketahanan nasional. Hal ini sejalan dengan visi pembangunan yang diusung oleh Prabowo Subianto, khususnya dalam menciptakan sumber daya manusia yang tangguh dan berdaya saing.

"Gerakan ini melibatkan unsur pentahelix, yaitu pemerintah, masyarakat, dunia usaha, akademisi, dan media. Tujuannya adalah meningkatkan kesadaran, pengetahuan, serta keterampilan masyarakat dalam menghadapi situasi darurat secara efektif," kata Edy Budi Susilo Minggu (26/4/2026) usai acara penutupan HKB di PPH Hutan Pinus Garahan Silo.

Edy mengatakan, berbagai upaya yang telah dilakukan terbukti mampu mengurangi dampak bencana, baik dari sisi korban jiwa maupun kerugian material. Peningkatan kapasitas kesiapsiagaan yang dilakukan secara berkelanjutan menjadi kunci keberhasilan tersebut.

"Namun demikian, tantangan masih terus muncul. Bencana banjir dan longsor yang terjadi di sejumlah wilayah Sumatera pada 2025 menjadi pengingat nyata akan ancaman bencana hidrometeorologi yang semakin meningkat akibat perubahan iklim," tuturnya.

Ia menuturkan, bahwa peristiwa tersebut menimbulkan korban jiwa, kerusakan pemukiman, serta terganggunya aktivitas masyarakat. Kondisi ini menegaskan bahwa kesiapsiagaan harus terus diperkuat, tidak hanya terhadap bencana geologi, tetapi juga terhadap faktor lingkungan yang semakin dinamis.

"Dalam HKB 2026, berbagai kegiatan dilakukan secara serentak di seluruh Indonesia, seperti simulasi evakuasi mandiri, edukasi kebencanaan, uji sistem peringatan dini, serta aksi mitigasi berbasis lingkungan. Puncaknya ditandai dengan bunyi sirene dan kentongan sebagai simbol kesiapan nasional," jelasnya.

Baca Juga : Haji 2026 Anti-Lecet! Ini Tips Ampuh Cegah Kaki Melepuh dari Kemenhaj

Edy menambahkan, bahwa Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) juga melaporkan hasil survei terhadap peserta HKB 2026 yang menunjukkan tingkat penerimaan masyarakat sangat tinggi. Hampir 100 persen responden menyatakan program ini efektif dalam meningkatkan pemahaman dan kesiapan menghadapi bencana.

Selain itu, hanya sekitar 0,3 persen responden yang menyatakan tidak setuju, sementara mayoritas menganggap materi yang disampaikan mudah dipahami dan relevan dengan kondisi di lapangan. Hal ini menunjukkan keberhasilan pendekatan edukatif yang dilakukan secara masif.

Dalam kesempatan tersebut, pemerintah menegaskan bahwa kesiapsiagaan merupakan kewajiban bersama, bukan pilihan. Latihan rutin, sistem peringatan dini yang berfungsi, serta perhatian terhadap kelompok rentan menjadi prioritas utama dalam upaya menyelamatkan jiwa masyarakat.

"Melalui HKB 2026, seluruh elemen bangsa diharapkan semakin siap menghadapi bencana dengan mengedepankan kolaborasi dan keberlanjutan. Upaya ini menjadi fondasi penting dalam membangun Indonesia yang tangguh di tengah tantangan bencana yang terus berkembang," pungkasnya. (*)