Serangan Drone Israel Hantam Lebanon di Tengah Gencatan Senjata, 1 Tewas dan 2 Luka

Reporter

Mutmainah J

Editor

A Yahya

22 - Apr - 2026, 06:42

Ilustrasi serangan udara. (Foto: iStock)

JATIMTIMES - Ketegangan di Timur Tengah kembali memanas setelah Israel melancarkan serangan drone ke wilayah Lebanon saat gencatan senjata masih berlangsung. Serangan yang terjadi pada Rabu (22/4) waktu setempat itu menewaskan satu orang dan melukai dua lainnya.

Mengutip laporan kantor berita resmi Lebanon, National News Agency (NNA), serangan tersebut menghantam kawasan pinggiran al-Jabour di wilayah Bekaa Barat pada waktu subuh. “Satu orang tewas dan dua lainnya mengalami luka akibat serangan drone musuh,” demikian pernyataan NNA seperti dilansir Agence France-Presse (AFP), Rabu (22/4/2026).

Baca Juga : Ranu Kumbolo Dibuka Lagi 24 April, Cek Syarat Pendakian Terbaru Gunung Semeru

Serangan udara ini terjadi hanya sehari setelah kelompok Hizbullah meluncurkan roket dan drone ke wilayah utara Israel pada Selasa (21/4) malam.

Hizbullah menyebut aksinya sebagai respons atas dugaan pelanggaran gencatan senjata oleh Israel. Dalam pernyataannya, kelompok yang didukung Iran itu menuduh Israel melakukan serangan terhadap warga sipil serta menghancurkan rumah dan desa di Lebanon.

Mereka mengklaim target serangan adalah sumber tembakan artileri Israel, sebagai bentuk “pembelaan terhadap Lebanon dan rakyatnya”.

Di sisi lain, militer Israel menyatakan bahwa pasukannya menjadi sasaran tembakan roket dari Hizbullah di wilayah Lebanon selatan. Sebagai respons, Israel mengaku telah menyerang lokasi peluncuran roket milik kelompok tersebut.

Sementara itu, laporan NNA juga menyebutkan bahwa aktivitas militer Israel masih berlangsung di sejumlah kota di Lebanon selatan, termasuk penembakan artileri dan penghancuran infrastruktur di wilayah yang diduduki.

Konflik antara Israel dan Lebanon kembali meningkat sejak awal Maret 2026, ketika Hizbullah melancarkan serangan ke wilayah Israel. Sejak saat itu, eskalasi kekerasan terus terjadi dan memicu krisis kemanusiaan.

Lebih dari 2.000 orang dilaporkan tewas, sementara lebih dari satu juta warga terpaksa mengungsi akibat serangan udara yang terus berlanjut.

Baca Juga : Iran Tolak Perpanjangan Gencatan Senjata Sepihak dari Donald Trump, Ketegangan Teluk Persia Memanas

Upaya meredakan konflik sempat dilakukan melalui gencatan senjata selama 10 hari yang dimediasi oleh Amerika Serikat, dan mulai berlaku sejak Jumat (17/4). Namun di lapangan, ketegangan belum benar-benar mereda.

Pasukan Israel masih berada di wilayah Lebanon selatan, dekat perbatasan. Bahkan, Menteri Pertahanan Israel menegaskan bahwa negaranya siap menggunakan “kekuatan penuh” jika merasa terancam.

Serangan terbaru ini menunjukkan bahwa gencatan senjata yang ada masih sangat rapuh. Aksi saling balas antara Israel dan Hizbullah berisiko memicu konflik yang lebih luas jika tidak segera dikendalikan.

Perkembangan situasi ini masih terus dipantau oleh berbagai pihak internasional, mengingat dampaknya yang tidak hanya dirasakan di kawasan, tetapi juga berpotensi memengaruhi stabilitas global.