Inflasi Jatim Nyaris 5 Persen, Energi dan Emas Uji Daya Beli Jelang Lebaran
Reporter
Muhammad Choirul Anwar
Editor
Sri Kurnia Mahiruni
03 - Mar - 2026, 11:46
JATIMTIMES — Tekanan harga di Jawa Timur (Jatim) semakin menguat pada awal 2026. Inflasi tahunan Februari tercatat mendekati ambang psikologis 5 persen, dengan komoditas energi rumah tangga dan emas perhiasan menjadi penopang utama kenaikan menjelang Lebaran.
“Pada Februari 2026 terjadi inflasi year on year (y-on-y) Provinsi Jawa Timur sebesar 4,88 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 111,07,” ujar Plt. Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jatim Herum Fajarwati.
Baca Juga : Jasamarga Pandaan Tol Operasikan 7 Armada Layanan Lalu Lintas Siaga 24 Jam
Struktur inflasi kali ini didominasi kelompok kebutuhan dasar yang langsung memengaruhi pengeluaran rumah tangga. “Inflasi y-on-y terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh kenaikan indeks kelompok pengeluaran, yaitu kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 20,71 persen,” jelasnya.
Kelompok tersebut menjadi penekan terbesar dibanding kelompok lain. Tarif listrik tercatat sebagai kontributor dominan karena efek berantainya terhadap biaya konsumsi dan produksi.
Selain energi, tekanan juga datang dari komoditas pangan dan emas perhiasan. “Komoditas yang dominan memberikan andil/sumbangan inflasi y-on-y pada Februari 2026 antara lain tarif listrik, emas perhiasan, daging ayam ras, beras, cabai rawit, telur ayam ras, bawang merah, dan angkutan udara,” paparnya.
Besaran andil masing-masing komoditas terhadap inflasi tahunan tercatat bervariasi. Tarif listrik menyumbang 1,89 persen, disusul emas perhiasan 1,18 persen. Dari kelompok pangan, daging ayam ras memberi andil 0,25 persen, beras 0,22 persen, cabai rawit 0,11 persen, dan telur ayam ras 0,11 persen. Bawang merah serta angkutan udara masing-masing menyumbang 0,10 persen.
Baca Juga : Ramadan Terang Lebaran Tenang, PLN Malang Jemput Bola Promo Tambah Daya Diskon 50%
Dominasi energi dan emas dalam struktur inflasi menunjukkan tekanan harga tidak semata dipicu faktor musiman. Kenaikan tarif listrik langsung membebani rumah tangga, sementara lonjakan emas mencerminkan dinamika eksternal yang turut memengaruhi ekonomi daerah.
Dengan momentum Lebaran yang identik dengan peningkatan konsumsi, komposisi inflasi berbasis kebutuhan dasar ini menjadi ujian nyata bagi daya beli masyarakat Jatim. Pengendalian harga energi dan stabilitas pasokan pangan akan menjadi faktor penentu dalam menjaga keseimbangan ekonomi rumah tangga pada periode puncak konsumsi tersebut.
