Jejak Terminal dari Pecinan ke Arjosari, Museum Terminal Bakal Ada di Kota Malang
Reporter
Anggara Sudiongko
Editor
Dede Nana
17 - Feb - 2026, 03:44
JATIMTIMES - Riwayat sebuah kota sering kali bersembunyi di simpul paling sibuknya. Di tengah deru mesin dan lalu lalang penumpang, gagasan merawat sejarah itu justru lahir. Museum Terminal Kota Malang kini tengah dirintis sebagai ruang ingatan yang merekam perjalanan transportasi dan denyut ekonomi kota dari masa ke masa.
Arief Wibisono, penggagas museum tersebut, menuturkan ide ini berawal dari arsip lama milik kakeknya yang pernah menjabat kepala terminal Kota Malang pada era 1970 an di Terminal Patimura. Tumpukan dokumen yang lama tersimpan itu menjadi pemantik kesadaran bahwa sejarah terminal tidak boleh berhenti sebagai cerita lisan.
Baca Juga : Polres Pelabuhan Tanjungperak Ungkap 41 Kasus Narkotika Sepanjang Januari 2026
“Saya menemukan banyak arsip penting. Dari situ muncul keinginan untuk merangkum dan mempublikasikannya agar tidak hilang,” ujarnya saat diwawancarai, Selasa, (17/2/2026).

Langkah awal yang ia tempuh bukan langsung membangun ruang pamer, melainkan menyusun buku berjudul Sejarah Peradaban Terminal Kota Malang. Buku tersebut telah rampung dan menjadi fondasi narasi museum. Menurut Arief, kehadiran buku ini diharapkan memperkaya literatur sejarah lokal, khususnya yang membahas perkembangan terminal sebagai bagian penting tata kota. Ia menyebut karya itu sebagai pijakan akademik sekaligus referensi publik untuk memahami perubahan ruang dan mobilitas di Malang.
Terminal Pertama Kota Malang
Dari penelusuran sejarah, diketahui terminal pertama berada di kawasan Pecinan dekat Pasar Besar. Konsep kedekatan terminal dengan pusat perdagangan sudah dirancang sejak era kolonial agar aktivitas ekonomi saling menopang. Perpindahan kemudian terjadi ke Sawahan yang kini menjadi area SPBU, berlanjut ke kawasan Trunojoyo pada dekade 1960 an, hingga akhirnya ke Terminal Patimura pada 1969 dan diresmikan 1972 saat wali kota saat itu.

Terminal Patimura berdiri di atas bekas pemakaman Belanda. Sekitar 50 kerangka dipemakaman itu dipindahkan ke satu liang di bagian belakang pemakaman Sukun. Seiring pertumbuhan kota dan meningkatnya jumlah kendaraan, lokasi itu tak lagi memadai. Pada 1989, aktivitas dipindahkan ke Terminal Arjosari yang berstatus tipe A dan melayani angkutan antarkota antarprovinsi.
Bagi Arief, perjalanan tersebut menunjukkan bahwa terminal selalu mengikuti dinamika populasi dan pergerakan ekonomi. Karena itu, museum yang ia bangun tidak sekadar menampilkan foto dan benda lama. Konsepnya adalah living museum, menghadirkan pengalaman berjalan menyusuri ruang terminal sembari membaca sejarahnya. Hampir 100 foto dokumenter asli telah ia kumpulkan, mulai era kolonial hingga perkembangan Arjosari.

Progres pembangunan museum disebut telah mencapai sekitar 60 persen. Maret 2026, Museum Terminal ini ditargetkan selesai dan bisa dinikmati oleh masyarakat. Area lobi pembelian tiket akan dipasang foto dokumenter perkembangan terminal, sementara lantai dua disiapkan untuk memamerkan seragam dinas lama pegawai terminal sebelum pengelolaannya beralih ke Dinas Perhubungan.
Baca Juga : Energi Kuda Api Guncang Museum Angkut, Show Fire Horse Jadi Magnet Wisatawan
“Kami ingin pengunjung tidak hanya melihat, tapi merasakan perjalanan waktunya,” kata Arief.
Ke depan, ia juga menggagas mini tour jejak terminal. Program ini dirancang sebagai tur edukatif yang mengajak peserta berkeliling ke titik titik bekas terminal di Kota Malang. Dengan pola tersebut, pengunjung dapat memahami transformasi ruang kota secara langsung di lapangan. Wacana ini sekaligus memperluas fungsi museum sebagai pusat literasi sejarah urban.

Arief berharap Museum Terminal Kota Malang tidak hanya menjadi etalase nostalgia, tetapi juga destinasi wisata edukasi baru. Ia optimistis inisiatif ini dapat memperkaya khasanah sejarah kota sekaligus menegaskan bahwa terminal bukan sekadar tempat datang dan pergi, melainkan saksi perubahan zaman yang layak dirawat.
